Rabu, 18 Februari 2009

TRANSFORMASI MISI KRISTEN


RANGKUMAN PEMIKIRAN
TRANSFORMASI MISI KRISTEN
Buku David J. Bosch

A. Perubahan-perubahan Paradigma dalam Misiologi Iman Kristen adalah suatu iman yang histories, artinya Allah mengkomunikasikan pernyataanNya kepada orang banyak melalui manusia dan melalui berbagai peristiwa, dengan kata lain iman alkitabiah (baik PL dan PB), bersifat inkarnasional (realitas Allah memasuki urusan-urusan manusia).

6 paradigma utama menurut Hans Kung
  1. Paradigma apokaliptik dari kekristenan perdana.
  2. Paradigma Helenis dari periode Bapa gereja.
  3. Paradigma Katolik Roma abad Pertengahan
  4. Paradigma Protestan (reformasi)
  5. Paradigma Pencerahan Modern
  6. Paradigma oikumenis yang sedang muncul
Adalah suatu ilusi apabila kita percaya bahwa kita dapat menembus kedalam sebuah Injil yang murni tanpa dipengaruhi oleh perkembangan budaya atau perkembangan manusiawi lainnya.

Paradigma dalam ilmu alamiah berbeda dengan ilmu teologi, dalam ilmu alamiah paradigma yang lama tentu digantikan oleh paradigma yang baru dank arena itu sangat tidak mungkin untuk kembali pada paradigma lama setelah mengenal paradigma yang baru, misalnya teori revulusi Newton dalam memandang dunia membuat kita tidak dapat kembali dalam cara pandang Copernicus apalagi Ptolomeus tentang dunia. Berbeda dengan teologi, Paradigma yang lama dapat terus hidup bahkan mengalami perkembangan sekalipun sudah ada paradigmam yang baru. Kadang-kadang paradigma lama mengalami kebangkitan/kejayaan kembali, misalnya penemuan kembali teologi Paulus oleh Augustinus pada abad 4M, Marthin Luther abad 16M, dan Karl Barth abad 20M.

Bagi orang Kristen, pergeseran paradigma apapun hanya dapat dilaksanakan berdasarkan Injil dan oleh karenan Injil, namun tidak pernah melawan Injil.
Gereja berfungsi sebagai paguyuban hermeneutis internasional, didalamnya orang-orang Kristen dari berbagai latar belakang yang berbeda-beda saling menantang bias budaya, social, dan ideologis dalam memahami teks-teks kitab suci. Sehingga kita memandang sesama orang Kristen sebagai mitra dan bukannya saingan apalagi musuh.
Gereja secara umum dan misi Kristen pada khususnya pada masa kini diperhadapkan pada masalah-masalah yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya, namun menuntut jawaban-jawaban yang relevan bagi zamannya dan pada saat yang sama selaras dengan hakikat iman Kristen. Factor-faktor yang menantang untuk dijawab : Barat yang merupakan symbol kekuasaan krkristenan telah kehilangan posisinya (power) di dunia. Orang-orang dari segenap belahan dunia sedang memperjuangkan pembebasan dari cengkraman kekuasaan barat. Struktur-struktur penindasan dan eksploitasi seperti rasialisme, seksisme, dll ditantang dengan lebih serius dibandingkan dengan masa sebelumnya.Teologi yang ekologis komprehensif. Kesadaran akan semakin berkurangnya sumber-sumber energi alam yang dimana manusia bergantung. Ancaman bencana kekuatan nuklir yang dapat memusnahkan peradaban umat manusia, perlu adanya usaha perdamaian dengan berdasar pada keadilan.Teologi Barat kini bukanlagi mahkota teologi Kristen, penerimaan akan nilai-nilai Injil yang ada dalam budaya menjadikan teologi-teologi local berkembang dengan pesat.Selama ini pemahaman akan absolutisme kebenaran agama Kristen dibanding agama lainnya tidak dapat ditawar. Akan tetapi tuntutan akan kebebasan dalam beragama menuntut kita mengevaluasi ulang sikap kita terhadap pemeluk agama lainnya.
Dunia masa kini menantang kita untuk mempraktekkan suatu hermeneutika transformative, suatu tanggapan theologies yang membaharui kita terlebih dahulu sebelum kita terjun ke dalam misi kepada dunia.

B. Paradigma Misi gereja Timur abda ke2 sampai abad ke 6 ·
Iman Kristen yang hidup dan berkembang pada tradisi keyahudian mulai mengalami perubahan ketika memasuki dunia kebudayaan Yunani-Romawi. · Para teolog Kristen cenderung mencemoohkan agama-agama kafir, mereka bersikap lebih baik pada filsuf kafir. · Pengaruh filsafat Plato sangat terasa dalam perubahan paradigma misi. Allah perjanjian lama dan kekristenan yang primitive kini diidentifikasikan dengan gagasan-gagasan yang umum tentang Allah dalam metafisika Yunani. · Penekanan budaya Yunani yang menitikberatkan pada pengetahuani dan bukannya pada pengalaman menyebabkan perubahan yang sangat memegang peranan. Allah bukanlahgi dilihat dalam hubunganNya antara manusia dan Allah, melainkan Allah menjadi semakin penting untuk direfleksikan dalam diriNya sendiri. Dengan kata lain Pengetahuan menggantikan peristiwa. Keselamatan bukan masalah pengalaman atau peristiwa melainkan masalah pemahaman yang benar. Oleh karena itu implementasinya adalah Roh Kudus bukan lagi penuntun/penghibur/penolong, melainkan menjadi roh hikmat (bukan kegiatanNya yang diperhatikan melainkan keberadaan awalNya yang menjadi perhatian), · Penyataan Allah tidak lagi dipahami sebagai komunikasi peristiwa-peristiwa, melainkan komunikasi kebenaran-kebenaran tentang keberadaan Allah dalam tiga hakikat dan pribadi tunggal Kristus dalam dua tabiat. · Pesan menjadi doktrin, doktrin menjadi dogma, dan dogma ini diuraikan dalam ajaran yang dengan lihai dirangkai menjadi satu. · Perbedaan yang mencolok antara tradisi Yunani dan tradisi Ibrani (semitik) adalah terletak pada penekanan Visual dan Audio. Iman timbul dari pendengaran, berasal dari kata Dabar (kata Ibrani untuk firman), menunjuk pada kata-kata yang diucapkan. Sedangkan Logos (kata Yunani untuk Firman), mengacu pada pengetahuan yang timbul melalui penglihatan. · Perbaikan situasi mengakibatkan perubahan wawasan akan pengahrapan Apokaliptik tidak lagi diperhatikan. · Pesan Kristen berada dalam masa perubuhan dari pemberitaan tentang pemerintahan Allah yang imanen menjadi pemberitaan tentang agama yang satu-satuya yang sejati dan universal untuk umat manusia. · Iman pada janji-janji Allah yang masih harus digenapi digantikan oleh iman pada kerajaan Kristus yang kekal yang sudah digenapi dalam kebangkitan Kristus. kebangkitanNya bukan lagi buah sulung (Paulus), dari kebangkitan orang percaya melainkan menjadi peristiwa yang lengkap sebagai penggenapan puncak dari semua janji Allah. · Kristus tidak lagi dipandang dalam bingkai Historisasi PL dan Eskatologis masa depan. Melainkan peristiwa kematian dan kebangkitan menjadi puncak (awal dan akhir). · Kristologi Yahudi yang menekankan pentingnya Kristus yang histories tersingkirkan menjadi kristus yang dimuliakan (Logos yang kekal). · Pemahaman bukan lagi pada eskatologi dan protologi Kristus (apa yang dikerjakan dan tujuan kedatangan Kristus), kedalam dunia melainkan pada praeksistensi kekal Kristus (dari mana Kristus datang). · Kekristenan Yahudi menekankan penyelamatan manusia dari bencana yang terjadi dalam dunia dan pembebasan para tawanan (keselamatan kepada dunia ini), sedangkan kekristenan Helenis menekankan pada penyelamatan dari dunia ini. · Gereja zaman ini mengalami ancaman yang cukup serius dari kaum Gnosis. · Sementara gereja semakin menamkan kekuasaannya di dunia barat, kekristenan dituntut untuk membangun kerjasama yang erat dengan kekaisaran. Kerena itu model kekritenan yang lainnya kemudian dikucilkan diusir. Akan tetapi pengusiran ini kemudia melahirkan model kekristenan Timur yang lain konteks (Asia). Sehingga metode yang khas dan berbeda dengan kekristenan di Barat.

C. Paradigma Misi Katolik Roma Abad Pertengahan ·
Yang dimaksud dengan abad pertengahan disini adalah masa antara 500 sampai 1500 tahun sesudah Masehi. Zaman ini boleh dikatakan dimulai pada saat Gregorius Agung menjadi Paus dan mencapai akhirnya pada saat Konstantinopel direbut oleh Islam. Sekalipun demikian kita harus melihat sosok Agustinus dari Hippo yang dapat dikatakan sebagai pelopor abad pertengahan. Reaksi dan tanggapan beliau terhadap berbagai gejolak yang terjadi dalam dunia keKreistenan abad pertengahan itu yang kemudian sangat mempengaruhi teologi abad pertengahan tersebut. · Bantahan Agustinus terhadap Pelagianisme; Pelagius memiliki pandangan yang sangat optimis akan potensi yang ada pada diri manusia. Bagi Pelagius manusia mempunyai kemampuan untuk mencapai segala hal yang baik melalui tindakan, perkataan, dan pengilhaman. Dengan kata lain Pelagius menganggap kematian Yesus di kayu salib bukanlah dalam rangka penebusan dosa-dosa manusia dan karena itu Yesus bukanlah Juruslamat melainkan sebatas guru dan model, dimana kita terpanggil untuk meneladaniNya. Jelas bagi Agustinus pemahaman Pelagius ini adalah pemahaman yang salah. Ia adalah seorang yang sangat memegang ajaran Paulus tentang pembenaran oleh iman. Jelas bahwa Agustinus melihat manusia sedemikian berdosanya sehingga sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa selain menerima anugrah Allah. Oleh karena itu Kematian Yesus Kristus di salib dan kebangkitanNya adalah pusat teologi Kristen. · Respon Agustinus terhadap kaum Donatis yang ada di Afrika Utara. Mereka menekankan bahwa ketujuh dosa maut (penyembahan berhala, hujat, membunuh, zinah, hubungan di luar nikah, bersaksi palsu, dan menipu), tidak dapat diampuni. Sehubungan dengan hal tersebut, mereka memprotes kehadiran Filipus dalam proses penahbisan Caecilian sebagai uskup Karthago. Mereka yakin bahwa Filipus adalah seorang pengkhianat terhadap orang-orang Kristen ketika terjadi penganiayaan dimasa Diocletianus. Selain itu ajaran utama mereka adalah pemisahan yang mutlak antara gereja dan Negara. Agustinus kemudian menentang kaum Donatis ini, dalam hal ini Agustinus tidak hendak menyatakan bahwa gereja dan para pemimpinnya bebas dari dosa, melainkan harus disadari bahwa di dalam gereja kita juga akan menemukan orang-orang yang masih berlumuran dosa. Oleh karena itu semua orang dalam gereja (termasuk orang-orangbaik), adalah orang berdosa, menurutnya kauym Donatis yang merasa diri benar dan kudus lebih berdosa daripada orang-orang berdosa lainnya. Ia menekankan bahwa kehadiran gereja bukanlah menjadi tempat perlindungan dari dunia yang telah rusak melainkan hadir demi perbaikan dunia. Akan tetapi yang kemudian menjadi fatal adalah pandngan Agustinus tadi kemudian menimbulkan paradigma kekudusan melekat pada diri Gereja. Sehingga barangsiapa yang berada di luar gereja (Katolik) menjadi tidak selamat. Dua abad setelah Agustinus, Cyprianus yang muncul di daerah bekas perbantahan antara Agustinus dan kaum Donatis mengatakan istilah yang kemudian menjadi dasar gereja Katolik abad pertengahan “extra ecclesian nulla salus” (tidak ada keselamatan di luar gereja Katolik). Sekalipun slogan ini lahir dalam kondisi yang sangat khas (hasil pembantahan Agustinus terhadap kaum Donatis), akan tetapi tidak lama kemudian kontekstualisasi ucapan Cyprianus menjadi tidak penting, sehingga ini dijadikan dasar dalam bertindak melakukan ekspansi-ekspansi keluar bahkan dengan cara-cara yang memalukan. · Penaklukkan Roma yang saat itu telah menjadi Kristen oleh kaum Gotik (non Kristen). Menjadi kasus yang juga dijawab oleh Agustinus melalui salah satu karya fenomenalnya “De Civitate Dei”. Teologi saat itu yang sangat mengagung-agungkan kekristenan sebagai sumber berkat, terbukti dari kejayaan Roma menjadi luntur akibat kekalahan mereka dari kaum Gotik yang bukan orang Kristen. Sehingga banyak orang yang melihat ini sebagai bukti kegagalan agama Kristen. Terutama para penganut agama tradisi Romawi yang menuduh penerimaan agama Kristen dan pelarangan agama Romawi kuno menyebabkan kemarahan para dewa dan membiarkan kekalahan Roma. · Agustinus dalam jilid 15, menekankan bahwa ada dua masyarakat di dunia ini. Masyarakat yang pertama adalah kelompok yang hidup berdasarkan stndar-standar manusia, sedang kelompok yang kedua adalah yang hidup menurut kehendak Allah. Agustinus yakin bahwa kelompok manusia yang kedua ini telah ditetapkan oleh Allah sebelumnya untuk memerintah bersama Allah (predestined). Penting untuk melihat bahwa Agustinus tidak menyamakan civitas Dei dengan gereja secara institusi apalagi Negara, melainkan ia menunjuk kepada persekutuan orang-orang kudus (communion sanctorum), yang sedang berziarah dalam sebuah perjalanan menuju ke rumah sorga. Sekalipun demikian pandangan Agustinus ini dilencengkan menjadi penyamaan Kota Allah dengan kehadiran gereja Katolik sebagai Institusi. Yang menarik adalah pandangan Agustinus tentang Kota Dunia (kelompok manusia yang pertama), tidak sepenuhnya negative berbea dengan kaum Donatis. Ia tidak memisahkan secara mutlak antara yang kudus dan yang profan. Tetapi ia juga tidak menjadi terburu-buru menyatakan bahwa Kekaisaran Roma sebagai alat keselamatan Allah. Agustinus mengakui bahwa masyarakat Kota Dunia (civitas terrena), sedang berjuang menuju kepada masyarakat ideal dimana keadilan dan perdamaian berkuasa, akan tetapi kondisi ideal ini tidak akan pernah tercapai di dalam dunia, melainkan hanya di dalam kerajaan Kristus yang akan datang. · Tiga peristiwa di atas kemudian menjadi dasar bagi teologi gereja Katolik abad pertengahan. Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya terjadi pergeseran-pergeseran pemahaman ke arah yang lebih radikal dan cendrung tidak memperhatikan konteks ide tersebut lahir. Sebagai contoh ide pemaksaan terhadap kaum Donatis agar mereka kembali masuk Kristen kemudian menjadi dasar bagi Gregorius Agung melakukan tindakan kekerasan bagi para budak yang belum dibabtis, padahal pemaksaan yang dilakukan oleh Agustinus hanya sebatas penambahan pajak, pengucilan, dan bukannya hukuman fisik. · Yang sungguh disyukuri kemudian adalah perkembangan Monastisime yang sebenarnya diyakini lahir di dunia gereja Timur. Sekalipun demikian ada perbedaan yang mencolok antara monastisisme gereja Timur dan gereja Barat. Di Timur gerekan ini lebih kepada menjauhkan diri dari kehidupan duniawi, melakukan penyendirian-penyendirian, sedangkan di Barat Biara bahkan menjadi pusat Misi. Di sini para Misionaris dibekali dan diperlengkapi. · Puncak dari teologi abad pertengahan diyakini muncul dalam diri Thomas Aquinas. Ia membagi manusia dan segala sesuatunya di alam ini ke dalam dua bagian besar. Bagian yang menunjuka kepada yang bersifat kodrati dan yang kedua bersifat adikodrati. Yang bersifat adiodrati lebih tinggi dari yang bersifat kodrati, ia mengatakan bahwa iman lebih tinggi dari nalar, teologi lebih tinggi dari filsafat.

D. Paradigma Misi Reformasi Protestan
Kekecewaan terhadap ajaran-ajaran yang menyimpang dari Alkitab membuat Marthin Luther mengadakan reformasi dalam tubuh gereja KAtolik Roma. · Roma 1:16 memberi kesadaran kepada Marthin Luther dan melahirkan 3 semboyan, sola gratia, sola scripture, sola fide. · Akhirnya gereja Katolik Roma mengusir Marthin Luther dari dalam gereja, sehingga pengikutnya kemudia disebut sebagai kaum reformator. Gereja protestan bertumbuh dengan pesat, bahkan masih terpecah ke dalam beberapa aliran lainnya.
Menuju satu Misi yang Relevan · Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah menyadarkan manusia bahwa konsep-konsep rasionalisme bukan lagi segala-galanya dan tidak harus melakukan ekspansi dalam menyebarluaskannya. · Skema subjek-objek telah dibaharui, bumi bukanlah sekedar objek tetapi bagian dari manusia yang tidak dapat dipisahkan, sehingga kesadaran ekologis mulai berkembang. · Kesadaran akanpentingnya membangun dialog dengan penganut agama lain menjadi hal yang tidak dapat dikesampingkan. · Gereja bukanlagi bersifat sentifugal tetapi sentrypetal. Misi bukanlagi dari gereja dan untuk gereja, melainkan dari gereja dan untuk umat manusia. · Misi yang dijalankan oleh gereja bukanlah misi gereja, melainkan misi Allah yang dipercayakan kepada gereja, sehingga gereja adalah Alat dan bukan penentu dalam melaksanakan Misi. · Proses pelaksanaan Misi tidak boleh serampangan, harus memperhatikan konteks social masyarakat sekitarnya, sehingga tidak lagi tejadi vandalisme teologis.

5 TIPOLOGI NIEBUHR



A. Pokok-pokok fikiran dalam 5 Tipologi Niebuhr

1. Kristus Lawan Kebudayaan.
Kehadiran Yesus Kristus membuat kasih manusia kepada Allah dan sesamanya menjadi mungkin untuk dilakukan, hal tersebut nyata dalam tindakan penyerahan diriNya di atas kayu salib. Pemenuhan perintah-perintah Kristus merupakan jalan keselamatan bagi umat manusia, dan karena itu Yesus adalah juruslamat bagi Tolstoi. Biaraisme menjadi salah satu kekuatan besar pelestarian dan penerus tradisi budaya, yang secara khusus mempersiapkan kemenangan social gereja dan pertobatan dunia kafir. Ketika masyarakat Kristen berurusan dengan masyarakat yang dianggapnya kafir, tetapi sebenarnya mereka belum mampu melepaskan diri secara penuh dari mereka, orang Kristen radikal selalu dituntut untuk mencari bantuan prinsip-prinsip yang tak dapat diperolehnya secara langsung dari keyakinannya. Nalar adalah metode-metode dan isi pengetahuan yang lahir dari kebudayaan, sedangkan wahyu adalah pengetahuan Kristen tentang Allah yang berasal dari Yesus Kristus. Dosa melimpah dalam kebudayaan, akan tetapi orang Kristen telah keluar dari dosa yang terdapat dalam kebudayaan dan masuk dalam terang yang ajaib.

2. Kristus Dari Kebudayaan.
Ketegangan yang ada antara gereja dan dunia menurut Abelard adalah akibat dari salah pengertian gereja tentang Kristus. Yesus sebagai pembimbing manusia dalam seluruh usaha mereka untuk merealisasikan dan melestarikan nilai-nilai mereka. Situasi fundamental manusia bukanlah suatu konflik dengan alam, melainkan konflik dengan Allah, dan Yesus Kristus berada di pusat konflik itu sebagai perantara. Bantuan masyarakat Kristen yang melihat kristus dari kebudayaan adalah membantu manusia memahami Injil Yesus dalam bahasanya sendiri, watak Yesus dalam gambarannya sendiri dan lain-lain. Teologi Tritunggal dilihat sebagai suatu pengenalan filsafat budaya kedalam iman Kristen dan bukannya konsekwensi dari upaya orang beriman memahami siapa Yesus. Jawaban-jawaban budaya terhadap masalah kristus-kebudayaan memperlihatkan suatu kecendrungan untuk memutarbalikkan tokoh dari perjanjian baru, yaitu Yesus.

3. Kristus Di Atas Kebudayaan
Gereja pada posisi tengah tidak mengambil posisi kaum anti budaya dan juga tidak pada posisi penyesuaian Kristus kepada kebudayaan.
Kristus dan dunia tidak dapat begitu saja saling bertentangan satu dengan yang lain, di mana alam yang adalah baik ditata dengan benar oleh Allah.
Kelompok kristus di atas kebudayaan mencapai rekonsiliasi diantara semangat Yesus kristus dan suasana pendapat yang sedang berlaku dengan jalan penyederhanaan sifat Tuhan. Kristus tidak menentang kebudayaan tetapi menggunakan hasil-hasilnya yang terbaik sebagai alat dalam karyanya untuk menganugrahkan kepada manusia apa yang tidak dapat dicapai oleh manusia. Manusia dapat berdamai dengan dirinya sendiri jika ia menyangkal alam dan kebudayaan dalam usahanya untuk taat kepada Kristus. Integritas dan perdamaian adalah pengharapan kekal dan tujuan dari orang Kristen, dan bahwa perwujudan sementara dari kesatuan ini dalam bentuk yang dirancang manusia.

4. Kristus Dan Kebudayaan Dalam Paradok.
Issue pokok dalam hidup bukanlah yang dihadapi kaum Kristen radikal yang menarik garis antara komunitas Kristen dan dunia kafir, juga bukan menurut issue yang menurut pandangan kaum Kristen budaya yang melihat konflik antara manusia dengan alam, tetapi terletak antar kebenaran Allah dan kebenaran diri. Yesus Kristus sepenuhnya adalah anugrah dari Allah dan Allah dari anugrah, sebab anugrah sepenuhnya ada di pihak Allah. Manusia di hadapan Allah mendapatkan hidupnya dari Allah, disokong dan diampuni oleh Allah, dikasihi dan dihidupi oleh Allah. Hukum kristus bukanlah suatu tambahan pada hukum kodrat manusia tetapi pernyataannya yang benar, suatu aturan bagi kebanyakan orang, dan bukan suatu aturan yang khusus bagi orang-orang super. Hukum kristus menuntut kasih terhadap Allah dan sesama yang lengkap, spontan dan sepenuhnya melepaskan diri sendiri tanpa melihat kearah keuntungan sementara. Dualisme cenderung memimpin orang-orang Kristen ke dalam antinomianisme dan kedalam konservatisme budaya.

5. Kristus Pengubah Kebudayaan.
Kristus adalah pengubah kebudayaan dalam arti bahwa Ia memberi arah baru, memberi tenaga baru, dan meregenerasikan hidup manusia, yang dinyatakan alam semua karya manusia. Akibat kedua dari dosa akar adalah keberdosaan social manusia, tidak ada sesuatu yang begitu sosial karena kodrat dan begitu tidak sosial karena kerusakan. Dengan merendahkan kesombongan dan melepaskan manusia dari dirinya sendiri disatu pihak dan dipihak lain menyatakan kasih Allah dan menghubungkan manusia kepada satu-satunya kebaikan, kristus memulihkan apa yang telah rusak. Penyakit yang mendalam dari manusia kontradiksi diri di mana ia terlibat sebagai perorangan dan sebagai anggota masyarakat-manusia, ialah penyangkalannya terhadap terhadap hukum keberadaannya. Pemerintahan berada di bawah pemerintahan kedaulatan Allah, dan bahwa orang Kristen harus melaksanakan karya budaya dalam ketaatan kepada Tuhan. Regenerasi masyarakat manusia melalui penggantian masyarakat kafir oleh prinsip-prinsip Trinitas adalah tema dari gerakan Kristen yang dimulai oleh Athanasius dan Ambrose.

B. Refleksi Pribadi

Kedatangan Yesus di dunia adalah dalam kerangka untuk memberi keselamatan dan norma-norma yang baru dalam tatanan kehidupan umat manusia. oleh karena itu Kristus adalah pribadi yang sentral dalam berita pemberitaan kritiani. Jelas bahwa kehadiran Yesus di dunia bukanlah dalam kerangka menghapuskan tatanan masyarakat yang sudah ada sebelumnya, melainkan Ia berusaha memberi pemaknaan baru yang dipusatkan pada konsep kasih. Tatanan masyarakat baru yang di tawarkan oleh Yesus dalam kerangka kerajaan Allah tentunya membawa konsekwensi logis berupa benturan dengan nilai-nilai kebudayaan yang telah ada dalam masyarakat. Oleh karena itu pendekatan yang saya lebih pilih dan juga sekaligus pilihan hidup saya adalah Kristus Pengubah Kebudayaan. Dialog antara Injil dan Kebudayaan adalah hal yang mau tidak mau harus dilakukan. Sebab Yesus sendiri adalah sebuah produk kebudayaan pada zamanNya, akan tetapi Yesus tidak menjadi larut dalam budayanya, namun Ia mampu memberi penilaian secara kritis terhadap kultur masyarakatnya dan memberi makna baru bahkan lebih dari itu, Yesus kemudian mampu menawarkan nilai-nilai baru. Kemampuan Yesus yang mampu memberi penilaian dan memaknai budayanya secara kreativ tentu saja bukanlah hasil spekulatif dari seorang reformator yang kebablasan. Tentulah sikap dan kemampuan Yesus ini didasari atas pengenalan yang mendalam atas budayanya, dan hal itu berarti Ia berakar kuat dalam budayanya. Sekalipun Yesus adalah pribadi yang berakar kuat dalam budayanya, namun ia tidak terjebak dalam romantsime budaya yang mengangung-agungkan budayanya sendiri. Kultur yang membungkus saya adalah kultur masyarakat Batak Karo. Kultur saya tentulah unik dan berbeda jauh dengan kultur masyarakat di mana Yesus pernah hidup dan berkarya. Akan tetapi sebagai seorang pengikut Yesus, maka menjadi tugas saya kemudian untuk mengenal budaya saya secara tepat dan kemudian mampu memberi penilaian kritis dan memberi makna baru, bahkan jika dirasa perlu saya harus mampu memberi nilai-nilai baru dalam kultur masyarakat saya berdasarkan ajaran Yesus.

Rabu, 11 Februari 2009

PLURALISME AGAMA

Kata pluralisme sampai saat ini masih berada dalam perdebatan sengit, apalagi ketika kata ini ditujukan kepada masalah kemajemukan agama dan keyakinan. Bagi sebagian orang Pluralisme adalah sebuah ajaran sesat yang seharusnya tidak boleh ada. Sedangkan bagi kelompok yang lain sangat menekankan sikap yang pluralistis dibidang apapun, termasuk dalam bidang agama. Pluralisme agama merupakan tantangan sekaligus kebutuhan, dan secara sosiologis masalah pluralisme tidak dapat terelakkan.

Pemaknaan terhadap kata ini juga beragam. Bagi Nurcholish Madjid, misalnya, religious plurality tidak harus diartikan secara langsung sebagai pengakuan akan kebenaran semua agama dalam bentuknya yang nyata sehari-hari. Akan tetapi ajaran ini menandaskan pengertian dasar bahwa semua agama diberi kebebasan untuk hidup, dengan resiko yang akan ditanggung oleh para pengikut agama itu masing-masing, baik secara pribadi maupun kelompok.[1] Pemaknaan seperti ini nampaknya belum sampai pada konsep pluralisme penuh, tetapi baru sampai pada kategori inklusivisme. Tentu saja diakui bahwa sikap inklusivisme bagaimanapun juga masih lebih menolong dan lebih baik ketimbang sikap keberagaman yang individualistik, apalagi yang eksklusif ataupun fundamentalis.[2] Harold Coward menegaskan bahwa dalam banyak pengalaman kelahiran agama-agama baru yang muncul dalam lingkungan yang plural, bersanding dengan agama-agama lain , akan membentuk dirinya dan eksis. Ketegangan kreatif yang ditimbulkan oleh pluralisme sering menjadi katalisator bagi wawasan baru dan perkembangan agama. Jadi, tantangan ini merupakan suatu krisis sekaligus peluang untuk perkembangan rohani.[3] Agama Yahudi misalnya bertumbuh dan mendapatkan bentuk monotheisme yang murni dalam sejarah perjalanan panjangnya berinteraksi dengan agama dan kepercayaan lain, bahkan pada masa pembuangan dan setelahnya agama Yahudi semakin menemukan bentuk yang sebenarnya.[4] Kekristenan baru menjadi agama yang besar dan mengusai daerah Eropa dan sebagian Asia Kecil, ketika jauh dari Yerusalem tanah kelahiran Yesus Kristus.[5] Sedangkan Islam menemukan kebebasannya ketika Nabi Muhammad memutuskan untuk melakukan Hijrah dan melakukan aliansi dengan suku-suku lain diluar Mekkah.[6] Harold Coward menginventarisasi bahwa tantangan pluralisme kegamaan menghasilkan tiga tema dan prinsip umum:[7] Pertama, pluralisme dapat dipahami dengan paling baik dan logis, jika dapat memahami Yang Satu berwujud dalam yang banyak. Hal ini memang sesuai dan bisa dimengerti, bahwa hakikatnya Tuhan hanya satu dan sama bagi semua agama. Andaikata terpaksa menjumpai perbedaan atau berlainan, maka hidup berdampingan dengan tanpa memperbandingkan secara timbal balik, masih dimungkinkan. Dan hambatan teologis dalam berbagai dialog keagamaan relatif tidak tampak. Kedua, ada pengalaman bersama mengenai kualitas pengalaman agama partikular sebagai alat. Di sini dapat dimengerti bahwa agama sebagai alat kompetisi sehat, alat pengendali kehidupan manusia, dan alat untuk mencapai Tuhan yang sama. Hanya saja perlu diwaspadai kemungkinan munculnya faham relativisme dan liberalisme beragama. Sebab seorang yang pluralis, tetap harus berpijak pada satu agama yang diyakini dengan konsisten, namun dia harus mampu bersifat arif terhadap pemeluk agama yang lain. Ketiga, spiritualitas dikenal dan diabsahkan melalui pengenalan kriteria sendiri pada agama-agama lain. Sebab bagaimanapun, pluralisme akan selalu menuntut untuk saling membagi pemahaman partikular kita, dan ini akan memperkaya rohani serta memperkuat keyakinan terhadap agama sendiri. Adapun kondisi yang yang dikehendaki oleh konsep pluralisme agama adalah; yang pertama, apabila setiap agama, demikian juga komunitas umatnya, dapat memberi tempat kepada agama lain, tidak hanya dalam perasaan toleransi sebagai warga negara kelas kedua. Yang kedua, apabila setiap agama dapat membedakan antara keyakinan dan konsekwensi moral mereka, dan yang ketiga, apabila ada konsensus yang pasti dapat dicapai oleh masyarakat yang berbeda-beda keyakinan, untuk saling menghormati tatanan moral yang penting bagi pribadi dan sikap sosial mereka.[8] Tiga kondisi tersebut sebenarnya dapat diwujudkan oleh kalangan umat beragama, selama antar mereka tercipta saling pengertian yang mendalam walaupun tetap hidup dalam agama yang berbeda-beda. Pertanyaannya sekarang adalah “Bagaimana cara yang harus ditempuh oleh umat beragama sehingga dapat mengembangkan sikap yang positif, arif, dan konstruktif semacam itu?” Tobroni dan Syamsul Arifin mengusulkan, untuk mengembangkan pluralisme menjadi kekuatan sinergis dalam kehidupan masyarakat di masa depan, maka agama-agama dalam konteks ini dijadikan landasan etis.[9] Sedangkan Th. Sumartana mengusulkan diintensifkannya dialog antara umat beragama dalam berbagai bentuk, yaitu dialog hidup, dialog aksi, dialog teologis, dan dialog pengalaman keagamaan[10] (dua dari model dialog tersebut merupakan pendekatan yang digunakan dalam tulisan ini). Kegiatan dialog tersebut setidaknya akan menyentuh dua hal pokok, yakni menghidupkan kesadaran baru dalam memahami secara otentik mengenai iman orang lain, tanpa bersikap meremehkan apalagi mendistorsikan, dan mewujudkan kerjasama untuk memecahkan persoalan kemanusiaan yang nyata di masyarakat. Hal itu akan menjadi kekuatan dalam menanggulangi ekskalasi persoalan yang formatnya bersifat lintas agama.[11] Setelah itu berbagai langkah dan upaya perlu dipertimbangkan guna mengantisipasi merebaknya hambatan dan halangan serta bahaya (seperti klaim kebenaran dari masing-masing agama, konflik dan reduksionisme), antara lain: perlunya diadakan pembenahan pemahaman secara mendasar menyangkut tataran filosofis dan etis, atas sikap keberagaman umat beragama terhadap agama mereka sendiri dan agama orang lain, perlu diadakan diskusi dalam berbagai level di dalam satu agama tertentu. Hal tersebut dilakukan dengan maksud untuk menghindari salah pengertian dan sekaligus meningkatkan marturity (kedewasaan), dari umat beragama tersebut. Selain itu, dialog antara umat beragama perlu digalakkan di berbagai level.[12]

[1] Onghokham, Pluralisme Agama dalam Perspektif Sejarah, dalam Th. Sumartana, dkk., (eds), Dialog: Kritik dan Identitas Agama, (Yogyakarta: Dian Interfidei, 1993), hlm. 170.
[2] MADIA (Masyarakat Dialog Antar Agama), Bincang Tentang Agama di Udara, Yogyakarta: LKiS, 2005, hlm. 56.
[3] Harold Coward, Pluralisme Tantangan bagi Agama-agama, terj. Bosco Carvallo, Yogyakarta: Kanisius, 1992, hlm. 167-168.
[4] Karen Armstrong, Sejarah Tuhan, Bandung: Mizan.20054 hlm. 87-94. [5] Ibid., hlm. 155-160. bnd. Th. van den End, Harta Dalam Bejana, Jakarta: BPK-GM, 2003, hlm 16-19.
[6] Ibid, hlm. 215-223. bnd. Karen Armstrong, Muhammad Sang Nabi: Sebuah Biografi Kritis, Surabaya: Risalah Gusti, 2006, hlm. 193-202.
[7] Harold Coward, op. cit., hlm. 168-169
[8] Fatimah Usman, Wahdat al-Adyan, Dialog Pluralisme Agama, Yogyakarta: LKiS, 2002, hlm 67-68.
[9] Tobroni dan Syamsul Arifin, Islam, Pluralisme Budaya dan Politik, Yogyakarta: Sipress, 1994, hlm. 34.
[10] Th. Sumartana, dkk, Dialog: Kritik dan Identitas Agama, Yogyakarta: Dian Interfidei, 1993, hlm. xvi.
[11] Ibid, hlm. xxiii-xxiv.
[12] Fatimah Usman, op. cit., hlm. 69.

Selasa, 10 Februari 2009

Apa Yang Kamu Lihat?


Setiap kali kita merayakan Hari Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga, kita diperhadapkan pada pertanyaan apakah Yesus akan kembali untuk kita?
Namun lebih jauh lagi, kita mesti bertanya apakah Yesus benar-benar kita yakini telah naik ke sorga?

Jika benar, lalu mengapa banyak diantara kita yang masih memandang ke "langit".
Yang saya maksudkan adalah terlalu banyak orang Kristen yang terbuai dengan pengharapan akan kedatangan Yesus, sehingga mereka tidak melaksanakan tugas utama mereka.

Mari kita belajar dari kisah kenaikan Yesus tadi. Ketika Yesus naik ke surga, para murid begitu terpaku memandang peristiwa itu. Dalam hati mereka mungkin saja bertanya;
kapan ya saya juga ikut naik ke sorga seperti guru saya?
atau, bagaimana ini, Yesus sudah naik, siapa yang akan mengajar kami lagi?
atau, apa yang harus kita perbuat, Ia sudah meninggalkan kita?
dan banyak lagi pertanyaan lainnya yang berkecamuk dalam kepala mereka, akibatnya mereka hanya terpaku menengadah ke langit.

Malaikat harus menegur mereka: "Hai orang Galilea, mengapa kamu berdiri melihat ke langit?"
Malaikat harus memperingatkan dan menegur mereka, bahwa JANGAN BENGONG!!! Yesus sudah naik, tapi Ia akan kembali. Dan Ingat kamu punya TUGAS dari Yesus. ayo laksanakan tugas anda.

Pertanyaan bagi kita sekarang yang adalah murid-murid Yesus masa kini, apakah kita sudah sadar bahwa jangan lagi tinggal memandang ke langit. Sebab ada tugas yang harus kita kerjakan sebagai murid. Tugas apa itu?

Lukas 4:18-19
"Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebasakan orang-orang yang tertindas, untuk memberitahukan tahun rahmat Tuhan telah datang".
Yesus datang ke dalam dunia ini untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan di atas, karena itu sebagai murid Yesus, sudah menjadi kewajiban kita untuk melanjutkan pekerjaanNya, yaitu :
  1. Menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin. Miskin secara materil dan juga miskin secara rohani. Dan juga bukan sekedar berbicara, tapi lebih jauh bertindak.
  2. Memberitahukan pembebasan bagi orang-orang tawanan. Orang-orang tawanan karena dosa-dosa dan kejahatan yang dilakukan, bahwa Yesus sudah berkorban baginya, dan karena itu ia harus berubah.
  3. Penglihatan bagi orang-orang buta. Buta karena tidak mampu melihat kebenaran dan kebaikan, buta karena tiak memiliki pendidikan yang cukup, buta karena di butakan oleh sesamanya manusia.
  4. Membebasakan orang-orang yang tertindas. Tertindas oleh sesamanya manusia, ketidak adilan, kebohongan, keserakahan, dll.
  5. Memberitahukan tahun rahmat Tuhan telah datang. Telah datang, berarti sudah tiba, jadi terserah kita apakah kita mau menerimanya atau tidak.
Dan jangan takut sebab seperti kata Yesus : "Roh Tuhan ada padaku", pada diri kita pun ada ALLAH ROH KUDUS.

Marilah kita jangan lagi memandang ke langit, namun lakukanlah tugas kita dengan giat, agar ketika Yesus kembali, Ia menemukan kita sebagai hamba yang setia.
Amin.