Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Februari 2009

SEPINTAS SEJARAH PERKEMBANGAN ISLAM


I. DUNIA TEMPAT LAHIRNYA ISLAM
Semenanjung Arab yang merupakan tempat lahir dan berkembangnya agama Islam, pada awalnya berada dalam zaman yang diberi istilah oleh kaum Muslim sebagai zaman Jahiliyah[1]. Semenanjung Arab yang terkenal karena kekayaannya, pada masa sebelum kelahiran Muhammad saw, sebenarnya masih berada pada pengaruh primitive, politheisme, dan perang antar suku yang tidak berkesudahan.[2]

Salah satu tradisi politheisme yang dapat dikatakan menjadi salah satu factor perkembangan dunia Arab pada waktu itu adalah tradisi Haji. Suku-suku yang menganut kepercayaan politheisme bersama-sama mengadakan perjalanan spiritual untuk menyembah batu yang dianggap memiliki kekuatan suci. Salah satu pusat peribadatan batu adalah di Mekkah, tempat Hajar Aswad (Batu Hitam).[3] Selain batu hitam ini, tiap-tiap suku juga terkadang membawa patung-patung sesembahan mereka kedalam tempat peribadatan tersebut dan menyembahnya bersama-sama dengan suku-suku yang lainnya. Selama musim haji berlangsung dilakukan perjanjian damai, dimana semua suku tidak boleh saling mengangkat senjata terhadap suku yang lainnya. Selain itu didirikan juga pasar-pasar untuk mengadakan transaksi-transaksi perdagangan antara suku-suku yang datang beramai-ramai. Suku yang diberikan hak istimewa untuk mengatur pelaksanaan ini adalah suku Quraisy, suku nabi Muhammad saw.

Muhammad lahir sekitar tahun 570M di Mekkah sebagai seorang keluarga Bani Hasyim dari keluarga Quraisy. Ia telah kehilangan orang tuanya pada masa awal kehidupannya (ayahnya telah meninggal sebelum kelahirannya), dan ia kemudian diasuh oleh pamannya, Abu Thalib. Sebagaimana kebanyakan penduduk Mekkah, Muhammad muda menjadi seorang pedagang dan kemudian bertemu dengan Khadijah yang merupakan majikannya, tetapi kemudian menjadi istrinya.[4]

Muhammad muda sendiri sering melakukan perjalanan spritual dan perenungan-perenungan atau meditasi. Perkembangan suku Quraisy dan Mekkah dari sekedar desa kecil menjadi sebuah kota Metropolitan, tentu saja membuat banyak perubahan besar yang dialami oleh Muhammad. Nilai-nilai luhur masyarakat suku yang ikatan kekeluargaannya dulu sangat kuat dan bahkan menjadi dasar interaksi bagi orang-orang di Mekkah, perlahan-lahan mulai bergeser. Dasar kekeluargaan tidak lagi menjadi hal yang mengikat, melainkan relasi bisnis dan keuntungan semata yang menjadi dasar dari setiap relasi yang dibangun. Perubahan besar dari desa menjadi sebuah kota metropolitan dan dari masyarakat nomaden menjadi masyarakat civil membawa dampak yang besar dalam diri Muhammad muda. Selain itu interaksinya dengan banyak orang, diantaranya orang Yahudi dan orang Kristen. Perjumpaan dan dialog yang terjadi diantara mereka membuat Muhammad bertanya-tanya akan posisi bangsa Arab dalam hubungannya dengan Tuhan. Kemerosotan moral sukunya membuat dia semakin heran, apakah memang Tuhan tidak lagi mempedulikan bangsa Arab. Tentu saja ide tentang Tuhan yang diusung oleh Muhammad bukanlah tuhan dalam kaitannya dengan politheisme, melainkan Tuhan yang berkaitan dengan Monotheisme yang dikenal oleh orang Yahudi dan Kristen. Mengapa tidak ada Nabi atau kitab suci secara khusus bagi bangsa Arab. Dan pertanyaan-pertanyaa lainnya menjadi bahan perenungan Muhammad di dalam goa Hira.

Meditasi yang dilakukan Muhammad dalam goa Hira ternyata tidak sia-sia. Pada umur kira-kira empat puluh tahun, ia mendengar suara gaib yang berbunyi :

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (al-Qur’an surah 96 Al’Alag)[5]

Pernyataan atau ajaran pertama yang disampaikan oleh Muhammad didominasi oleh satu pikiran tunggal, dia menegaskan bahwa menumpuk kekayaan pribadi adalah salah, dan adalah suatu kebaikan bila membagi kekayaan dan menciptakan menciptakan masyarakat yang mencintai warganya yang lebih lemah. Itulah inti ajaran baru yang disebut Qur’an (bacaan) karena hampir sebagian besar pengikutnya pada awal diturunkannya wahyu adalah buta huruf, termasuk Muhammad sendiri, maka wahyu itu selalu diturunkan kepada Muhammad ayat demi ayat dan dibacakan dimuka umum.

Ajaran yang dikembangkan membawa perubahan bagi masyarakat Mekkah dan suku Quraisy secara khusus. Madzhab baru ini kemudian dinamai Islam (berserah diri) dan para pengikutnya disebut Muslim, yaitu orang yang menyerahkan seluruh hidupnya kepada Allah dan menaati perintah-Nya agar umat manusia memperlakukan satu sama lain dengan keadilan, persamaan dan perasaan kasih sayang. Sikap inilah yang kemudian menjadi dasar dari posisi sujud dalam setiap ibadah (shalat) yang harus dilakukan tiga kali sehari (kelak akan meningkat menjadi lima kali sehari). Sujud dilakukan untuk melawan arogansi dan sikap mementingkan diri sendiri yang dengan cepat berkembang di Mekkah. Muhammad percaya bahwa sikap badan mereka akan mendidik kembali umat Islam, mengajarkan mereka untuk mengesampingkan sifat egois, dan mengingatkan mereka bahwa di depan Tuhan semua itu tidak ada artinya atau dengan kata lain semua manusia sama.

II. MUHAMMAD SANG NABI
Kehadiran Muhammad saw bagi bangsa Arab secara umum dan suku Quraisy secara khusus merupakan berkah yang luar biasa. Namun bagi segelintir orang di Mekkah, kehadiran Muhammad merupakan ancaman yang – awalnya tidak terlalu diperhatikan – cukup serius bagi kedudukan mereka sebagai para tokoh masyarakat. Kekhawatiran akan peran Muhammad yang pada masyarakat Mekkah mulai dirasakan cukup kuat. Hal ini kemungkinan besar diakibatkan ajaran yang diusung oleh Muhammad lebih berpihak pada kesamaan dan keadilan bagi segenap umat manusia – terbukti dari jumlah pengikut awal Muhammad yang sebagian besar orang-orang miskin – yang sudah mulai terkikis dari kehidupan masyarakat Mekkah. Akan tetapi Islam juga ternyata memiliki kekuatan dan pesona tersendiri dalam menarik para pengikutnya, antara lain Umar Ibnu Khaththab, sebelumnya ia merupakan salah seorang pengikut aliran penyembah berhala yang sangat taat dan sangat menentang ajaran-ajaran yang dibawakan oleh Muhammad. Tetapi dia juga seorang ahli puisi Arab, dan ketika ia pertama kali mendengar kata-kata al-Qur’an, dia menjadi terpesona oleh keindahannya yang luar biasa.[6]

Semakin besarnya pengaruh Muhammad membuat beberapa tokoh masyarakat di Mekkah bersatu untuk mengusir Muhammad. Sejak tahun 616M orang-orang tersebut menjadi sangat marah kepada Muhammad, yang mereka katakan telah mencerca keyakinan orang tua mereka, mereka juga mengatakan bahwa Muhammad hanyalah seorang tukang obat yang berpura-pura menjadi nabi. Kemarahan mereka sebenarnya didasarkan pada salah satu ajaran al-Qur’an yang menolak sikap menumpuk harta, melainkan harus mensedekahkannya kepada orang-orang yang miskin. Baru saja mereka merasakan perkembangan ekonomi yang melanda Mekkah akibat peran strategis mereka sebagai penyelenggara Haji, mereka kemudian diperhadapkan dengan ajaran yang melarang mereka untuk menumpuk harta. Mereka menjadi sangat khawatir akan potensi Muhammad untuk mengambil alih kepemimpinan di Mekkah.

Pertentangan ini semakin membesar. Muhammad yang telah memperoleh kurang lebih tujuh puluh kepala keluarga harus berhadapan dengan embargo yang memboikot segala sendi kehidupan Muhammad dan ke-70 keluarga yang menjadi pengikutnya. Musuh-musuh Muhammad melarang orang-orang Quraisy untuk menikah dan mengadakan perdagangan dengan orang-orang Muslim, ini berarti tidak ada yang dapat mengirim makanan kepda mereka. Embargo ini berlangsung selama dua tahun, akibat dari embargo ini adalah kekurangan makanan yang sangat parah sehingga menjadi penyebab meninggalnya istri Muhammad, Khadijah. Para budak yang memilih masuk Islam diperlakukan dengan sangat buruk, diikat dan dibiarkan terbakar oleh sinar matahari sampai mati. Ini mengingatkan kepada kita tentang penganiayaan yang terjadi pada umat Kristen mula-mula yang juga mengalami penganiayaan yang sangat hebat.

Sekalipun memasuki tahun kedua penindasan terhadap umat Muslim di Mekkah telah membuat hampir sebagian besar umat melarikan diri, namun hal ini tidak membuat Muhammad memutuskan untuk pindah dari Mekkah. Rasa ikatan dan kesetiaan yang kuat terhadap sukunya Quraisy membuat Muhammad bertahan. Akan tetapi pada tahun 622M, Muhammad mengambil sebuah langkah yang sangat revolusioner dan menjadi sebuah awal tongak sejarah perkembangan Islam. Peristiwa ini dikenal dengan istilah Hijrah, berpindahnya Muhammad dan para pengikutnya dari Mekkah ke Yatsrib, yang dikemudian hari disebut Medinah (kota Nabi). Kepindahan Muhammad tentu saja bukan semata-mata disebabkan oleh tekanan yang dihadapinya. Pendekatan yang dilakukan oleh para pemimpin suku Yatsrib pada musim Haji tahun 620, meminta kepada Muhammad untuk memjadi pemimpin dari sebuah kota yang merupakan perkumpulan dari beberapa suku yang telah meninggalkan pola hidup nomaden dan tinggal menetap merupakan tawaran yang tepat pada waktunya. Hal ini merupakan pilihan yang paling bijak ketika paman dan sekaligus pelindung (wali) Muhammad, Abu Thalib meninggal dunia. Sistem balas dendam yang berlaku di Arab pada waktu itu memungkinkan bagi musuh-musuh Muhammad untuk membunuhnya tanpa adanya hukum yang dapat menjerat mereka. Sebab bagi Muhammad yang telah kehilangan wali satu-satunya maka ia dapat dibunuh tanpa adanya hukuman bagi si pembunuh. Jalan yang lain bagi Muhammad adalah dengan mencari wali pada salah satu ketua suku di Mekkah, namun tampaknya ini adalah hal yang mustahil untuk dilakukan.

III. MEDINAH, SEBUAH SUKU SUPER
Hijrah nabi Muhammad dari Mekkah ke Yatsrib menjadi sebuah tongak sejarah yang kemudian menjadi awal perkembangan yang sangat luar biasa dalam dunia Islam. Hijrah ini tidak hanya berpengaruh secara theologis, namun memberi pengaruh pada aspek sosial budaya dan politik. Dengan hijrahnya Muhammad ke Yatsrib, maka ia dapat menerapkan tujuan al-Qur’an sepenuhnya. Pada masa itu, ikatan kesukuan memiliki nilai suci dan sakral, keluarnya Muhammad dari Mekkah beserta dengan pengikutnya ke Yatsrib, merupakan sebuah bentuk pengkhianatan dan sekaligus penghinaan yang sangat besar bagi suku Quraisy. Mereka bersumpah untuk menghancurkan dan memusnahkan umat di Yatsrib. Yatsrib sendiri memiliki peran yang sangat penting, di sini Muhammad menjadi pemimpin dari suku yang terbentuk bukan didasarkan pada ikatan darah, melainkan pada persamaan ideologi. Muhammad tidak memaksakan penduduk di Yatsrib untuk memeluk agama Islam. Muhammad bahkan mencetuskan aturan-aturan yang mengatur ketertiban hidup penduduk Yatsrib yang majemuk dan terdiri dari berbagai latar belakang agama dan ras serta suku yang berbeda-beda. Kesetaraan dan keadilan menjadi nilai luhur yang sangat dijunjung tinggi. Hukum yang mengatur mereka menjadi sebuah ikatan yang dikenal dengan istilah masyarakat kemudian disebut sebagai “Piagam Madinah”.

Tindakan awal yang dilakukan oleh Muhammad ketika tiba di Yatsrib adalah membangun sebuah Masjid, yang dalam arti harfiahnya “tempat sujud”. Di bagian luar dari bangunan ini terdapat halaman yang menjadi tempat ummat bertemu untuk mendiskusikan berbagai hal, mulai dari agama, politik, sosial dan berbagai hal lainnya. Di pojok halaman terdapat sebuah gubuk yang merupakan tempat tinggal bagi Muhammad dan istri-istrinya. Seperti kita ketahui bersama bahwa salah satu kritikan Barat terhadap Muhammad adalah poligami yang dilakukannya, bahkan sampai sekarang menjadi dasar yang sangat kontroversial bagi pelaksanaan poligami di saman modern. Akan tetapi jika kita mencoba memahami lebih jauh lagi tentang keputusan Muhammad untuk berpoligami, mungkin kita akan memandangnya secara lebih objektif dan terbuka. Muhammad bukanlah seorang pecandu seks, seperti yang dituduhkan para orientalis Barat kepadanya. Hal ini terbukti dari pernikahan Muhammad dengan Khadijah istri pertamanya. Muhammad hanya menikah dengan satu orang (monogami) ketika ia masih tinggal di Mekkah, padahal waktu itu poligami bukanlah hal yang baru dan tabu atau salah untuk dilakukan. Muhammad baru berpoligami setelah ia Hijrah ke Yatsrib. Dimana ia menjadi pemimpin tertinggi dari kumpulan berbagai macam suku. Sebagai langkah mempererat persatuan diantara suku-suku tersebut, maka Muhammad mendukung pernikahan sebagai ikatan sosial dan ikatan kekeluargaan, itulah sebabnya sebagian dari istri-istrinya adalah anak dari kepala-kepala suku yang bergabung di Yatsrib. Selain itu banyak dari istri-istri Muhammad yang umurnya jauh lebih tua dan berasal dari kalangan tidak mampu atau sudah tidak punya pelindung lagi. Beberapa orang menganggap tindakan ini sebagai bentuk memberi perlindungan dan menyantuni orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Sangat jelas perbedaan motivasi poligami yang dilakukan oleh Muhammad dengan motivasi poligami yang dilakukan saman ini, namun sayang tindakan tersebut sering didasarkan pada keputusan yang dilakukan oleh Muhammad. Muhammad tidak memperoleh seorang anakpun dari pernikahannya, selain dengan Khadijah ia memperoleh enam orang anak, dua diantaranya meninggal dan empat yang bertahan hidup, semua anaknya adalah perempuan – hal inilah yang dikemudian hari menjadi masalah yang cukup pelik tentang siapa pewaris ke-nabian dan kepemimpinan Muhammad – dan tidak seorangpun berasal dari istri-istri yang dinikahinya di Medinah. Al-Qur’an mengisinkan Poligami karena didasari situasi sosial yang terjadi sebagai dampak dari peperangan yang terjadi antara Medinah dengan Mekkah, dimana peperangan ini menewaskan banyak laki-laki Muslim dan menyebabkan banyaknya wanita yang ditinggalkan tanpa pelindung. Hal ini mendasari diisinkannya poligami dalam al-Qur’an selama laki-laki mampu memperlakukan mereka dengan adil dan tidak menyayangi yang satu lebih dari pada yang lain.

Muhammad sangat tertarik untuk membangun kerjasama dengan suku-suku Yahudi yang ada di Mekkah. Ia sangat menghargai umat Yahudi dan Kristen yang disebutnya sebagai ahlul kitab. Dia memandang mereka sebagai sesama penganut monoteisme – mereka lebih dahulu menerima wahyu – yang hanya menyembah Tuhan yang Maha Esa. Salah satu langkah Muhammad untuk menunjukkan keseriusannya dalam menjalin hubungan dengan suku Yahudi adalah dengan memperkenalkan Shalat berjamaan pada jumat siang, dimana orang-orang Yahudi sedang mempersiapkan diri untuk memasuki hari sabtu (sabbath) atau hari perhentian. Sebenarnya Muhammad ingin mendapat pengakuan dari para penempuh dan penerima jalan monotisme yang lebih dahulu sebagai seorang nabi. Akan tetapi bagi orang Yahudi zaman kenabian sudah berakhir, sehingga tentu saja mereka menolak Muhammad sebagai seorang nabi yang baru. Penolakan suku Yahudi ini membuat Muhammad menjadi sangat terluka, ditambah lagi dengan ketidaksukaan tiga suku besar Yahudi yang ada di Medinajh saat itu. Kehadiran dan pengaruh Muhammad, entah bagaimana membuat mereka sangat tersinggung dan direndahkan sehingga mereka membentuk sebuah blok yang berencana untuk menghancurkan Muhammad bahkan sebelum Hijrahnya ummat ke Medinah. Akan tetapi tidak semua suku Yahudi yang tinggal di Yatsrib memusuhi Muhammad, beberapa kabilah kecil bahkan membangun hubungan yang cukup kuat dengan mereka – kemungkinan dari merekalah Muhammad dikemudian hari dapat mengetahui rencana pemberontakan tiga suku Yahudi tadi – bahkan Muhammad banyak menerima bantuan dalam memperdalam pengetahuannya mengenai kitab Yahudi. Salah satu kisah yang sangat digemarinya – dikemudian hari menjadi sebuah inspirasi bagi penentuan peran ummat Islam dalam sejarah penyelamatan dan karya Allah – adalah tentang Nabi Ibrahim yang memiliki dua orang anak. Salah satunya adalah Ismael, anak dari salah seorang budaknya Hajar. Kisah pengusiran Ismael dan ibunya Hajar serta kisah tentang janji Allah kepada Hajar, bahwa anaknya akan menjadi leluhur dari bangsa yang besar yaitu Arab merupakan nyanyian yang sangat indah bagi Muhammad. Ismael dan Hajar yang dibuang ke jasirah Arab ternyata masih memungkinkan bagi Ibrahim untuk mengunjungi anak dan istrinya dan membangun relasi dengan mereka. Tradisi Ibrahim yang dikenal dengan tradisi mezbah (kemanapun Ibrahim pergi dan tiba di suatu tempat, maka ia akan segera membangun sebuah mezbah untuk menyembah Tuhan), ternyata diajarkan juga kepada anaknya Ismael, bersama-sama mereka membangun kembali Ka’bah (mezbah yang pertama kali didirikan oleh Adam, tetapi kemudian dibiarkan rusak). Mendengar kisah ini, Muhammad menjadi sangat bahagia sebab jelas bangsa Arab sama sekali tidak disisihkan oleh Allah, sedangkan Ka’bah adalah bagian dari sejarah monoteistik bangsa Arab yang bahkan sama tua dengan tradisi Yahudi, oleh karena itu Ka’bah harus dimuliakan dan disucikan dari penyembahan berhala yang mencemarinya.

Pada bulan januari tahun 624, Muhammad melakukan sebuah perubahan yang sangat dirasakan oleh umat Muslim kini, perubahan ini adalah berpindahnya arah Kiblat. Selama ini arah Kiblat atau sujud adalah ke Jerusalem sebagai tempat pertama turunnya monoteisme, kini berubah arah ke Mekkah tempat Ka’bah berada sebagai bukti sejarah karya Allah bagi bangsa Arab. Perubahan ini sangat penting, sebab dengan begitu Muhammad menunjukkan bahwa mereka tidak lagi mengekor pada monoteisme Yahudi atau Kristen melainkan pada monoteisme murni Ibrahim yang telah mengenal Allah yang Esa sebelum kitab Taurat dan Injil diturunkan. Dengan demikian umat Islam akan berjalan ke arah Allah dengan jalannya sendiri.

Ummat muslim yang hijrah bersama-sama dengan Muhammad dikenal dengan sebutan kaum Muhajirin, tidak berprofesi sama seperti suku-suku yang terlebih dahulu tinggal di Yatsrib, mereka bukanlah petani melainkan para pedagang dan pengusaha. Oleh karena itu mereka dibantu oleh penduduk Yatsrib dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka. Muhammad sadar bahwa hal tersebut tidak dapat terus dilakukan sekalipun masyarakat di Yatsrib melakukannya dengan senang hati. Oleh karena itu kaum Muhajirin melakukan ghazwu atau penyerbuan. Penyerbuan ini dilakukan kepada kafilah atau rombongan-rombongan dari suku musuh dan bertujuan untuk merampas bahan makanan mereka. Sedapat mungkin dalam hal ini dihindari pertumpahan darah sebab hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya aksi balas dendam. Akibat ghazwu yang dilakukan oleh para Muhajirin, maka seringkali terjadi peperangan antara Mekkah dan Medinah, selain itu orang-orang Mekkah juga sudah bertekad untuk menumpas para ummat di Medinah. Beberapa perang diantaranya adalah Perang Badar, Perang uhud, Perang Khandaq, dan lain-lain. Niat nabi Muhammad saw untuk menciptakan perdamaian di Arab menjadi nyata ketika ia melakukan sebuah langkah inisiatif untuk menyudahi konflik. Pada tahun 628M bulan Maret, ia melakukan perjalanan haji pertamanya setelah hijrah. Bersama dengan seribu ummat Muslim yang lain mereka berjalan ke Mekka menggunakan pakaian tradisional hahi, yaitu kain putih dan tanpa membawa senjata. Tindakan ini sama saja dengan menyerahkan nyawa kepada musuh, namun Muhammad sadar akan peran suku Quraisy sebagai penyelenggara haji yang harus melindungi siapapun yang ingin melaksanakan ibadah haji. Jika kaum Quraisy menyerang Muhammad dan pengikutnya maka mereka akan menuai kritik dari suku-suku lainnya. Akan tetapu suku Quraisy tetap mengirimkan pasukan dan berusaha mencegat ummat Muslim dan Muhammad di perbatasan, sebab sebelum memasuki daerah perbatasan nyawa mereka belum dijamin. Untunglah Muhammad telah membangun ikatan dengan beberapa suku Badui di sekitar perbatasan yang akhirnya menolongnya menemukan jalan yang aman ke Mekkah. Hasil dari unjuk rasa damai ini adalah penandatanganan perjanjian damai oleh kedua belah pihak. Perjanjian damai ini tidak disukai oleh sebagian anggota dari kedua kelompok. Sebagian ummat yang merasa sudah diatas angin dan menginginkan kemenangan dengan cara tradisional yaitu dengan jalan penaklukkan secara militer merasa dipermalukan dengan perjanjian damai ini. Namun Muhhammad sudah bersikeras untuk membangun perdamaian di Arab.

Pada tahun 630 suku Quraisy melanggar perjanjian tersebut dan menyerang salah satu suku yang merupakan sekutu nabi. Pelanggaran ini membuat nabi melakukan parade dengan berkekuatan 10.000 orang bersenjata lengkap ke Mekkah. Sadar akan kekuatan yang akan dihadapinya, akhirnya Mekkah menyerah tanpa syarat, Muhammad berhasil menaklukkan Mekkah tanpa adanya pertumpahan darah setetespun. Selain itu ia juga menyucikan Ka’bah dan membersihkannya dari patung-patung berhala dan menetapkan Ka’bah sebagai pusat ibadah kaum Monotheis semata dalam kaitannya dengan kisah nabi Ibrahim dan anaknya Ismael.

Muhammad wafat pada tahun 632 dan pada saat itu, kurang lebih 10 tahun sejak hijrahnya Muhammad, ia telah berhasil menyatukan suku-suku di Jasirah Arab dan melenyapkan lingkaran perang suku yang diakibatkan oleh hukum balas dendam yang tidak pernah berkesudahan. Dengan kata lain Muhammad telah membawa pencerahan dan perdamaian kepada suku bangsa yang selama ini berada dalam kegelapan dan kekerasan yang sepertinya tidak akan pernah berakhir.

IV. ZAMAN KHALIFAH, DAN DINASTI
Sejak wafatnya Muhammad, masyarakat Islam berada dalam suasana kebingungan siapa yang berhakn meneruskan kepemimpinan Muhammad sebab dia tidak pernah menunjuk siapa yang kelak melanjutkan kepemimpinannya. Seperti yang sudah saya tulis pada bagian sebelumnya bahwa Muhammad tidak memiliki seorang anak laki-lakipun semakin memperparah situasi ini. Dimulailah saman perpecahan di dalam Islam. Mulailah terbentuk kelompok-kelompok dalam Islam. Kelompok Sunni yang mendukung siapapun yang naik asalkan berdasarkan suara mufakat bertentangan dengan kaum Syiah yang hanya menginginkan kepemimpinan dipertahankan dengan jalur hubungan darah, sedangkan kaum Khawarij lebih ekstrim dengan menunjuk harus keturunan murni Muhammad yang boleh menjadi penerus kepemimpinan Muhammad. Pertikaian ini tidak pernah selesai bahkan sampai kini. Pertikaian ini bukanlah masalah yang sederhana, banyak jatuh korban, saling fitnah dan mengkafirkan terus terjadi sampai hari ini. Kaum Sunni dan Syiah tidak pernah mau duduk bersama, bahkan sampai sekarang mereka lebih memilih untuk bekerjasama dengan pihak lain ketimbang saling bekerjasama. Hal ini yang dimanfaatkan oleh Amerika untuk menghancurkan kekuasaan Saddam Husein yang berlatar belakang Sunni dengan bekerjasama dengan para kaum Syiah yang selama Saddam Husein berada dalam penindasan.

Setelah mengalami kepemimpinan 4 khalifah, Islam kemudian beralih menjadi bentuk dinasty yang semakin ditandai dengan semakin muluasnya daerah kekuasaan Islam di muka bumi. Kurang dari 20 tahun sejak kematian Muhammad, Islam telah berhasil menaklukkan 2 kekuatan besar dunia. Kekaisaran Byzantium dan Kekaisaran Persia. Bahkan peradaban Islam dikemudian hari memberikan sumbangan yang luar biasa bagi dunia. Ilmu pengetahuan, filsafat, medis, dan berbagai bidang yang lainnya banyak dipengaruhi oleh perkembangan peradaban Islam.

Perkembangan dunia Islam yang begitu pesat, bahkan sampai menguasai duapertiga dari dunia ini, membuat terjadinya benturan-benturan dengan dunia Kristen. Benturan-benturan ini yang kemudian hari menjadi sejarah kelam umat beragama, yaitu “Perang Salib”.

V.TANGGAPAN KRITIS
Penulis mencoba untuk memaparkan tentang sejarah perkembangan umat Muslim sebagai sebuah upaya pemahaman yang didasarkan pada sejarah. Penulis yakin bahwa pengenalan yang benar akan sesuatu mesti didasarkan paling tidak dari pengetahuan yang benar akan sejarahnya.[7] Ada banyak kesalah pahaman yang muncul dalam kaitan antara dunia Islam dan Kristen yang sebenarnya jika kedua belah pihak sama-sama memahami akar budayanya, mereka dapat sampai pada kesimpulan bahwa mereka berasal dari atu produk yang tidak jauh berbeda. Bahwa mereka sama-sama mewarisi iman Abraham. Iman yang mengajarkan kepada umat manusia tentang kepercayaan kepada satu Tuhan.

Kalau kita lebih kritis lagi menilai lebih jauh, kita mungkin dapat sampai pada kesimpulan Allah yang disembah oleh Islam dan Allah yang disembah oleh Yahudi dan Kristen adalah Allah yang sama yang menyatakan diri-Nya kepada Abraham, Ishak dan Ismael, dan yang kemudian diperkenalkan lebih jauh dan secara lebih dekat oleh Yesus – terlepas dari fungsi Yesus sebagai Kristus – kepada bangsa Yahudi yang telah mengalami krisis moral. Statement ini tidak perlu terburu-buru untuk diberi tanggapan, inilah hanyalah sebuah tawaran sudut pandang yang lain dari konsekwensi logis dialog antar umat beragama, tentu saja dengan menggunakan metode-metode yang lebih berorientasi pada saling menghargai satu dengan yang lain. Sekali lagi bagi penulis, pengenalan yang benar akan sebuah objek akan sangat membantu kita dalam menentukan sikap terhadap interaksi yang akan kita bangun tersebut. Apakah sikap kita terhadap Islam adalah sikap yang anti terhadap mereka, ataukah sikap kita semestinya seperti orang Samaria yang sekalipun berbeda dalam hal suku dan sistem kepercayaan, namun tetap menolong orang yang sedang dalam kesulitan.

Dalam kesempatan ini penulis mencoba menggunakan metode “Passing Over” dalam proses membangun dialog dan interaksi terhadap dunia Islam. Selain itu sebuah etika dasar yang memandang manusia sebagai manusia terlepas dari status sosial yang terdapat pada dirinya. Cara pandang seperti ini akan sangat membantu kita untuk dapat bersikap seperti Yesus. Yesus tidak pernah merasa segan dan gentar terhadap siapapun, sekalipun kepada manusia yang dianggap oleh manusia yang lain memiliki kuasa atas kehidupan seseorang. Ia tidak gentar ketika berhadapan dengan Mahkama agama, atau dengan Pilatus dan Herodes. Ia juga tidak bersikap seperti masyrakat umum yang cendrung menolak orang-orang yang dicap sebagai “sampah masyarakat”, Ia malah bergaul dan berinteraksi dengan mereka. Ia berani mengatakan kebenaran sebagai sebuah kebenaran dan keselahan sebagai sebuah kesalahan, tanpa peduli kepada siapa Ia mengatakannya.

Sebagai seorang hamba Tuhan, terkadang kita menemukan sebuah dilema dalam menyampaikan pesan-pesan profetik yang harus senantiasa kita usung. Sikap kita terhadap seseorang terkadang sangat ditentukan pada pengaruh yang dimiliki oleh orang tersebut, ras, agama dan status sosial yang lainnya. Oleh karena itu etika yang memandang manusia sebagai manusia adalah etika yang semestinya diberlakukan dalam proses dialog dan interaksi antar pemeluk agama.

Kasus-kasus kerusuhan yang terjadi di Indonesia adalah sebuah bukti akan rapuhnya nilai-nilai toleransi yang sangat diagung-agungkan sebagai sebuah pengikat kesatuan bangsa. Ternyata nilai-nilai toleransi tersbut dalam batas-batas tertentu tidak dapat membendung fanatisme agama yang berlebihan, dengan kata lain ikatan nilai agama lebih kuat mengakar ketimbang ikatan nasionalisme.

Setelah banyaknya korban nyawa dan harta benda yang jatuh, kita kemudian baru terhenyak dari tidur panjang kita selama ini. Ternyata kita belum cukup saling mengenal satu dengan yang lain, sehingga menjadi sangat mudah dibakar oleh para provokator. Penyitiran ayat-ayat suci dalam mendukung sebuah tindakan anarkis bukanlah hal yang baru. Sejarah umat beragama mencatat hal tersebut. Kekristenan sendiri pernah berada pasa masa itu, dimana setiap orang yang memiliki pendapat yang berbeda dengan pendapat Gereja, hukuman matilah upahnya. Galileo misalnya harus mati karena statementnya yang mengatakan bahwa bumi itu bulat.

Banyaknya ayat-ayat dalam al-Quran yang bernada kurang simpatik terhadap Yahudi dan Nasrani, diakibatkan karena situasi politik yang sangat berpengaruh dalam kondisi turunnya wahyu. Sedangkan banyaknya ayat yang dapat digunakan untuk mendukung statement peperangan, bukan berarti Islam adalah agama yang tidak cintai damai. Hal ini disebabkan kerasnya situasi dan hukum padang pasir yang beralaku pada saat itu, jangan lupa bahwa Muhammad menaklukkan Mekkah tanpa menumpahkan setetes darahpun – tentunya dengan tidak memasukkan ketegori perang-perang yang lebih awal.

Jelas bahwa pemahaman yang benar akan membawa kita pada proses interaksi yang jauh dari prasangka dan kesalahpahaman.

DAFTAR PUSTAKA
Alkitab, Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 1974.
al-Qur’an, Jakarta: Departemen Agama RI
Annemarie Schimmel, “Islam Interpretatif : Upaya Menyelami Islam dari Inti Ajaran, aliran-aliran sampai realitas modernnya”, Depok: Inisiasi Pres, 2003.
Karen Armstrong, “Islam a Short History, Sepintas Sejarah Islam”, Yoyakarta: Ikon, 2003.
Komaruddin Hidayat dan Ahmad Gaus AF, “Passing Over, Melintas Batas Agama”, Jakarta: PT. Gramedia, 1998.

[1] Jahiliyyah adalah istilah yang diberikan oleh umat Muslim untuk menunjuk kepada zaman sebelum kemunculan Islam di Jasirah Arab.
[2] Annemarie Schimmel, “Islam Interpretatif : Upaya Menyelami Islam dari Inti Ajaran, aliran-aliran sampai realitas modernnya”, Depok: Inisiasi Pres, 2003, hlm. 9-11
[3] Ibid, hlm. 10
[4] Karen Armstrong, “Islam a Short History, Sepintas Sejarah Islam”, Yoyakarta: Ikon, 2003, hlm. 3-5
[5] Surat Al 'Alaq terdiri atas 19 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyah. Ayat 1 sampai dengan 5 dari surat ini adalah ayat-ayat Al Quran yang pertama sekali diturunkan, yaitu di waktu Nabi Muhammad s.a.w. berkhalwat di gua Hira'. Surat ini dinamai Al 'Alaq (segumpal darah), diambil dari perkataan Alaq yang terdapat pada ayat 2 surat ini. Surat ini dinamai juga dengan Iqra atau Al Qalam
[6] Karen Armstrong, op. cit., hlm. 5-6
[7] Komaruddin Hidayat dan Ahmad Gaus AF, “Passing Over, Melintas Batas Agama”, Jakarta: PT. Gramedia, 1998, hlm. 93

TRANSFORMASI MISI KRISTEN


RANGKUMAN PEMIKIRAN
TRANSFORMASI MISI KRISTEN
Buku David J. Bosch

A. Perubahan-perubahan Paradigma dalam Misiologi Iman Kristen adalah suatu iman yang histories, artinya Allah mengkomunikasikan pernyataanNya kepada orang banyak melalui manusia dan melalui berbagai peristiwa, dengan kata lain iman alkitabiah (baik PL dan PB), bersifat inkarnasional (realitas Allah memasuki urusan-urusan manusia).

6 paradigma utama menurut Hans Kung
  1. Paradigma apokaliptik dari kekristenan perdana.
  2. Paradigma Helenis dari periode Bapa gereja.
  3. Paradigma Katolik Roma abad Pertengahan
  4. Paradigma Protestan (reformasi)
  5. Paradigma Pencerahan Modern
  6. Paradigma oikumenis yang sedang muncul
Adalah suatu ilusi apabila kita percaya bahwa kita dapat menembus kedalam sebuah Injil yang murni tanpa dipengaruhi oleh perkembangan budaya atau perkembangan manusiawi lainnya.

Paradigma dalam ilmu alamiah berbeda dengan ilmu teologi, dalam ilmu alamiah paradigma yang lama tentu digantikan oleh paradigma yang baru dank arena itu sangat tidak mungkin untuk kembali pada paradigma lama setelah mengenal paradigma yang baru, misalnya teori revulusi Newton dalam memandang dunia membuat kita tidak dapat kembali dalam cara pandang Copernicus apalagi Ptolomeus tentang dunia. Berbeda dengan teologi, Paradigma yang lama dapat terus hidup bahkan mengalami perkembangan sekalipun sudah ada paradigmam yang baru. Kadang-kadang paradigma lama mengalami kebangkitan/kejayaan kembali, misalnya penemuan kembali teologi Paulus oleh Augustinus pada abad 4M, Marthin Luther abad 16M, dan Karl Barth abad 20M.

Bagi orang Kristen, pergeseran paradigma apapun hanya dapat dilaksanakan berdasarkan Injil dan oleh karenan Injil, namun tidak pernah melawan Injil.
Gereja berfungsi sebagai paguyuban hermeneutis internasional, didalamnya orang-orang Kristen dari berbagai latar belakang yang berbeda-beda saling menantang bias budaya, social, dan ideologis dalam memahami teks-teks kitab suci. Sehingga kita memandang sesama orang Kristen sebagai mitra dan bukannya saingan apalagi musuh.
Gereja secara umum dan misi Kristen pada khususnya pada masa kini diperhadapkan pada masalah-masalah yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya, namun menuntut jawaban-jawaban yang relevan bagi zamannya dan pada saat yang sama selaras dengan hakikat iman Kristen. Factor-faktor yang menantang untuk dijawab : Barat yang merupakan symbol kekuasaan krkristenan telah kehilangan posisinya (power) di dunia. Orang-orang dari segenap belahan dunia sedang memperjuangkan pembebasan dari cengkraman kekuasaan barat. Struktur-struktur penindasan dan eksploitasi seperti rasialisme, seksisme, dll ditantang dengan lebih serius dibandingkan dengan masa sebelumnya.Teologi yang ekologis komprehensif. Kesadaran akan semakin berkurangnya sumber-sumber energi alam yang dimana manusia bergantung. Ancaman bencana kekuatan nuklir yang dapat memusnahkan peradaban umat manusia, perlu adanya usaha perdamaian dengan berdasar pada keadilan.Teologi Barat kini bukanlagi mahkota teologi Kristen, penerimaan akan nilai-nilai Injil yang ada dalam budaya menjadikan teologi-teologi local berkembang dengan pesat.Selama ini pemahaman akan absolutisme kebenaran agama Kristen dibanding agama lainnya tidak dapat ditawar. Akan tetapi tuntutan akan kebebasan dalam beragama menuntut kita mengevaluasi ulang sikap kita terhadap pemeluk agama lainnya.
Dunia masa kini menantang kita untuk mempraktekkan suatu hermeneutika transformative, suatu tanggapan theologies yang membaharui kita terlebih dahulu sebelum kita terjun ke dalam misi kepada dunia.

B. Paradigma Misi gereja Timur abda ke2 sampai abad ke 6 ·
Iman Kristen yang hidup dan berkembang pada tradisi keyahudian mulai mengalami perubahan ketika memasuki dunia kebudayaan Yunani-Romawi. · Para teolog Kristen cenderung mencemoohkan agama-agama kafir, mereka bersikap lebih baik pada filsuf kafir. · Pengaruh filsafat Plato sangat terasa dalam perubahan paradigma misi. Allah perjanjian lama dan kekristenan yang primitive kini diidentifikasikan dengan gagasan-gagasan yang umum tentang Allah dalam metafisika Yunani. · Penekanan budaya Yunani yang menitikberatkan pada pengetahuani dan bukannya pada pengalaman menyebabkan perubahan yang sangat memegang peranan. Allah bukanlahgi dilihat dalam hubunganNya antara manusia dan Allah, melainkan Allah menjadi semakin penting untuk direfleksikan dalam diriNya sendiri. Dengan kata lain Pengetahuan menggantikan peristiwa. Keselamatan bukan masalah pengalaman atau peristiwa melainkan masalah pemahaman yang benar. Oleh karena itu implementasinya adalah Roh Kudus bukan lagi penuntun/penghibur/penolong, melainkan menjadi roh hikmat (bukan kegiatanNya yang diperhatikan melainkan keberadaan awalNya yang menjadi perhatian), · Penyataan Allah tidak lagi dipahami sebagai komunikasi peristiwa-peristiwa, melainkan komunikasi kebenaran-kebenaran tentang keberadaan Allah dalam tiga hakikat dan pribadi tunggal Kristus dalam dua tabiat. · Pesan menjadi doktrin, doktrin menjadi dogma, dan dogma ini diuraikan dalam ajaran yang dengan lihai dirangkai menjadi satu. · Perbedaan yang mencolok antara tradisi Yunani dan tradisi Ibrani (semitik) adalah terletak pada penekanan Visual dan Audio. Iman timbul dari pendengaran, berasal dari kata Dabar (kata Ibrani untuk firman), menunjuk pada kata-kata yang diucapkan. Sedangkan Logos (kata Yunani untuk Firman), mengacu pada pengetahuan yang timbul melalui penglihatan. · Perbaikan situasi mengakibatkan perubahan wawasan akan pengahrapan Apokaliptik tidak lagi diperhatikan. · Pesan Kristen berada dalam masa perubuhan dari pemberitaan tentang pemerintahan Allah yang imanen menjadi pemberitaan tentang agama yang satu-satuya yang sejati dan universal untuk umat manusia. · Iman pada janji-janji Allah yang masih harus digenapi digantikan oleh iman pada kerajaan Kristus yang kekal yang sudah digenapi dalam kebangkitan Kristus. kebangkitanNya bukan lagi buah sulung (Paulus), dari kebangkitan orang percaya melainkan menjadi peristiwa yang lengkap sebagai penggenapan puncak dari semua janji Allah. · Kristus tidak lagi dipandang dalam bingkai Historisasi PL dan Eskatologis masa depan. Melainkan peristiwa kematian dan kebangkitan menjadi puncak (awal dan akhir). · Kristologi Yahudi yang menekankan pentingnya Kristus yang histories tersingkirkan menjadi kristus yang dimuliakan (Logos yang kekal). · Pemahaman bukan lagi pada eskatologi dan protologi Kristus (apa yang dikerjakan dan tujuan kedatangan Kristus), kedalam dunia melainkan pada praeksistensi kekal Kristus (dari mana Kristus datang). · Kekristenan Yahudi menekankan penyelamatan manusia dari bencana yang terjadi dalam dunia dan pembebasan para tawanan (keselamatan kepada dunia ini), sedangkan kekristenan Helenis menekankan pada penyelamatan dari dunia ini. · Gereja zaman ini mengalami ancaman yang cukup serius dari kaum Gnosis. · Sementara gereja semakin menamkan kekuasaannya di dunia barat, kekristenan dituntut untuk membangun kerjasama yang erat dengan kekaisaran. Kerena itu model kekritenan yang lainnya kemudian dikucilkan diusir. Akan tetapi pengusiran ini kemudia melahirkan model kekristenan Timur yang lain konteks (Asia). Sehingga metode yang khas dan berbeda dengan kekristenan di Barat.

C. Paradigma Misi Katolik Roma Abad Pertengahan ·
Yang dimaksud dengan abad pertengahan disini adalah masa antara 500 sampai 1500 tahun sesudah Masehi. Zaman ini boleh dikatakan dimulai pada saat Gregorius Agung menjadi Paus dan mencapai akhirnya pada saat Konstantinopel direbut oleh Islam. Sekalipun demikian kita harus melihat sosok Agustinus dari Hippo yang dapat dikatakan sebagai pelopor abad pertengahan. Reaksi dan tanggapan beliau terhadap berbagai gejolak yang terjadi dalam dunia keKreistenan abad pertengahan itu yang kemudian sangat mempengaruhi teologi abad pertengahan tersebut. · Bantahan Agustinus terhadap Pelagianisme; Pelagius memiliki pandangan yang sangat optimis akan potensi yang ada pada diri manusia. Bagi Pelagius manusia mempunyai kemampuan untuk mencapai segala hal yang baik melalui tindakan, perkataan, dan pengilhaman. Dengan kata lain Pelagius menganggap kematian Yesus di kayu salib bukanlah dalam rangka penebusan dosa-dosa manusia dan karena itu Yesus bukanlah Juruslamat melainkan sebatas guru dan model, dimana kita terpanggil untuk meneladaniNya. Jelas bagi Agustinus pemahaman Pelagius ini adalah pemahaman yang salah. Ia adalah seorang yang sangat memegang ajaran Paulus tentang pembenaran oleh iman. Jelas bahwa Agustinus melihat manusia sedemikian berdosanya sehingga sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa selain menerima anugrah Allah. Oleh karena itu Kematian Yesus Kristus di salib dan kebangkitanNya adalah pusat teologi Kristen. · Respon Agustinus terhadap kaum Donatis yang ada di Afrika Utara. Mereka menekankan bahwa ketujuh dosa maut (penyembahan berhala, hujat, membunuh, zinah, hubungan di luar nikah, bersaksi palsu, dan menipu), tidak dapat diampuni. Sehubungan dengan hal tersebut, mereka memprotes kehadiran Filipus dalam proses penahbisan Caecilian sebagai uskup Karthago. Mereka yakin bahwa Filipus adalah seorang pengkhianat terhadap orang-orang Kristen ketika terjadi penganiayaan dimasa Diocletianus. Selain itu ajaran utama mereka adalah pemisahan yang mutlak antara gereja dan Negara. Agustinus kemudian menentang kaum Donatis ini, dalam hal ini Agustinus tidak hendak menyatakan bahwa gereja dan para pemimpinnya bebas dari dosa, melainkan harus disadari bahwa di dalam gereja kita juga akan menemukan orang-orang yang masih berlumuran dosa. Oleh karena itu semua orang dalam gereja (termasuk orang-orangbaik), adalah orang berdosa, menurutnya kauym Donatis yang merasa diri benar dan kudus lebih berdosa daripada orang-orang berdosa lainnya. Ia menekankan bahwa kehadiran gereja bukanlah menjadi tempat perlindungan dari dunia yang telah rusak melainkan hadir demi perbaikan dunia. Akan tetapi yang kemudian menjadi fatal adalah pandngan Agustinus tadi kemudian menimbulkan paradigma kekudusan melekat pada diri Gereja. Sehingga barangsiapa yang berada di luar gereja (Katolik) menjadi tidak selamat. Dua abad setelah Agustinus, Cyprianus yang muncul di daerah bekas perbantahan antara Agustinus dan kaum Donatis mengatakan istilah yang kemudian menjadi dasar gereja Katolik abad pertengahan “extra ecclesian nulla salus” (tidak ada keselamatan di luar gereja Katolik). Sekalipun slogan ini lahir dalam kondisi yang sangat khas (hasil pembantahan Agustinus terhadap kaum Donatis), akan tetapi tidak lama kemudian kontekstualisasi ucapan Cyprianus menjadi tidak penting, sehingga ini dijadikan dasar dalam bertindak melakukan ekspansi-ekspansi keluar bahkan dengan cara-cara yang memalukan. · Penaklukkan Roma yang saat itu telah menjadi Kristen oleh kaum Gotik (non Kristen). Menjadi kasus yang juga dijawab oleh Agustinus melalui salah satu karya fenomenalnya “De Civitate Dei”. Teologi saat itu yang sangat mengagung-agungkan kekristenan sebagai sumber berkat, terbukti dari kejayaan Roma menjadi luntur akibat kekalahan mereka dari kaum Gotik yang bukan orang Kristen. Sehingga banyak orang yang melihat ini sebagai bukti kegagalan agama Kristen. Terutama para penganut agama tradisi Romawi yang menuduh penerimaan agama Kristen dan pelarangan agama Romawi kuno menyebabkan kemarahan para dewa dan membiarkan kekalahan Roma. · Agustinus dalam jilid 15, menekankan bahwa ada dua masyarakat di dunia ini. Masyarakat yang pertama adalah kelompok yang hidup berdasarkan stndar-standar manusia, sedang kelompok yang kedua adalah yang hidup menurut kehendak Allah. Agustinus yakin bahwa kelompok manusia yang kedua ini telah ditetapkan oleh Allah sebelumnya untuk memerintah bersama Allah (predestined). Penting untuk melihat bahwa Agustinus tidak menyamakan civitas Dei dengan gereja secara institusi apalagi Negara, melainkan ia menunjuk kepada persekutuan orang-orang kudus (communion sanctorum), yang sedang berziarah dalam sebuah perjalanan menuju ke rumah sorga. Sekalipun demikian pandangan Agustinus ini dilencengkan menjadi penyamaan Kota Allah dengan kehadiran gereja Katolik sebagai Institusi. Yang menarik adalah pandangan Agustinus tentang Kota Dunia (kelompok manusia yang pertama), tidak sepenuhnya negative berbea dengan kaum Donatis. Ia tidak memisahkan secara mutlak antara yang kudus dan yang profan. Tetapi ia juga tidak menjadi terburu-buru menyatakan bahwa Kekaisaran Roma sebagai alat keselamatan Allah. Agustinus mengakui bahwa masyarakat Kota Dunia (civitas terrena), sedang berjuang menuju kepada masyarakat ideal dimana keadilan dan perdamaian berkuasa, akan tetapi kondisi ideal ini tidak akan pernah tercapai di dalam dunia, melainkan hanya di dalam kerajaan Kristus yang akan datang. · Tiga peristiwa di atas kemudian menjadi dasar bagi teologi gereja Katolik abad pertengahan. Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya terjadi pergeseran-pergeseran pemahaman ke arah yang lebih radikal dan cendrung tidak memperhatikan konteks ide tersebut lahir. Sebagai contoh ide pemaksaan terhadap kaum Donatis agar mereka kembali masuk Kristen kemudian menjadi dasar bagi Gregorius Agung melakukan tindakan kekerasan bagi para budak yang belum dibabtis, padahal pemaksaan yang dilakukan oleh Agustinus hanya sebatas penambahan pajak, pengucilan, dan bukannya hukuman fisik. · Yang sungguh disyukuri kemudian adalah perkembangan Monastisime yang sebenarnya diyakini lahir di dunia gereja Timur. Sekalipun demikian ada perbedaan yang mencolok antara monastisisme gereja Timur dan gereja Barat. Di Timur gerekan ini lebih kepada menjauhkan diri dari kehidupan duniawi, melakukan penyendirian-penyendirian, sedangkan di Barat Biara bahkan menjadi pusat Misi. Di sini para Misionaris dibekali dan diperlengkapi. · Puncak dari teologi abad pertengahan diyakini muncul dalam diri Thomas Aquinas. Ia membagi manusia dan segala sesuatunya di alam ini ke dalam dua bagian besar. Bagian yang menunjuka kepada yang bersifat kodrati dan yang kedua bersifat adikodrati. Yang bersifat adiodrati lebih tinggi dari yang bersifat kodrati, ia mengatakan bahwa iman lebih tinggi dari nalar, teologi lebih tinggi dari filsafat.

D. Paradigma Misi Reformasi Protestan
Kekecewaan terhadap ajaran-ajaran yang menyimpang dari Alkitab membuat Marthin Luther mengadakan reformasi dalam tubuh gereja KAtolik Roma. · Roma 1:16 memberi kesadaran kepada Marthin Luther dan melahirkan 3 semboyan, sola gratia, sola scripture, sola fide. · Akhirnya gereja Katolik Roma mengusir Marthin Luther dari dalam gereja, sehingga pengikutnya kemudia disebut sebagai kaum reformator. Gereja protestan bertumbuh dengan pesat, bahkan masih terpecah ke dalam beberapa aliran lainnya.
Menuju satu Misi yang Relevan · Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah menyadarkan manusia bahwa konsep-konsep rasionalisme bukan lagi segala-galanya dan tidak harus melakukan ekspansi dalam menyebarluaskannya. · Skema subjek-objek telah dibaharui, bumi bukanlah sekedar objek tetapi bagian dari manusia yang tidak dapat dipisahkan, sehingga kesadaran ekologis mulai berkembang. · Kesadaran akanpentingnya membangun dialog dengan penganut agama lain menjadi hal yang tidak dapat dikesampingkan. · Gereja bukanlagi bersifat sentifugal tetapi sentrypetal. Misi bukanlagi dari gereja dan untuk gereja, melainkan dari gereja dan untuk umat manusia. · Misi yang dijalankan oleh gereja bukanlah misi gereja, melainkan misi Allah yang dipercayakan kepada gereja, sehingga gereja adalah Alat dan bukan penentu dalam melaksanakan Misi. · Proses pelaksanaan Misi tidak boleh serampangan, harus memperhatikan konteks social masyarakat sekitarnya, sehingga tidak lagi tejadi vandalisme teologis.

5 TIPOLOGI NIEBUHR



A. Pokok-pokok fikiran dalam 5 Tipologi Niebuhr

1. Kristus Lawan Kebudayaan.
Kehadiran Yesus Kristus membuat kasih manusia kepada Allah dan sesamanya menjadi mungkin untuk dilakukan, hal tersebut nyata dalam tindakan penyerahan diriNya di atas kayu salib. Pemenuhan perintah-perintah Kristus merupakan jalan keselamatan bagi umat manusia, dan karena itu Yesus adalah juruslamat bagi Tolstoi. Biaraisme menjadi salah satu kekuatan besar pelestarian dan penerus tradisi budaya, yang secara khusus mempersiapkan kemenangan social gereja dan pertobatan dunia kafir. Ketika masyarakat Kristen berurusan dengan masyarakat yang dianggapnya kafir, tetapi sebenarnya mereka belum mampu melepaskan diri secara penuh dari mereka, orang Kristen radikal selalu dituntut untuk mencari bantuan prinsip-prinsip yang tak dapat diperolehnya secara langsung dari keyakinannya. Nalar adalah metode-metode dan isi pengetahuan yang lahir dari kebudayaan, sedangkan wahyu adalah pengetahuan Kristen tentang Allah yang berasal dari Yesus Kristus. Dosa melimpah dalam kebudayaan, akan tetapi orang Kristen telah keluar dari dosa yang terdapat dalam kebudayaan dan masuk dalam terang yang ajaib.

2. Kristus Dari Kebudayaan.
Ketegangan yang ada antara gereja dan dunia menurut Abelard adalah akibat dari salah pengertian gereja tentang Kristus. Yesus sebagai pembimbing manusia dalam seluruh usaha mereka untuk merealisasikan dan melestarikan nilai-nilai mereka. Situasi fundamental manusia bukanlah suatu konflik dengan alam, melainkan konflik dengan Allah, dan Yesus Kristus berada di pusat konflik itu sebagai perantara. Bantuan masyarakat Kristen yang melihat kristus dari kebudayaan adalah membantu manusia memahami Injil Yesus dalam bahasanya sendiri, watak Yesus dalam gambarannya sendiri dan lain-lain. Teologi Tritunggal dilihat sebagai suatu pengenalan filsafat budaya kedalam iman Kristen dan bukannya konsekwensi dari upaya orang beriman memahami siapa Yesus. Jawaban-jawaban budaya terhadap masalah kristus-kebudayaan memperlihatkan suatu kecendrungan untuk memutarbalikkan tokoh dari perjanjian baru, yaitu Yesus.

3. Kristus Di Atas Kebudayaan
Gereja pada posisi tengah tidak mengambil posisi kaum anti budaya dan juga tidak pada posisi penyesuaian Kristus kepada kebudayaan.
Kristus dan dunia tidak dapat begitu saja saling bertentangan satu dengan yang lain, di mana alam yang adalah baik ditata dengan benar oleh Allah.
Kelompok kristus di atas kebudayaan mencapai rekonsiliasi diantara semangat Yesus kristus dan suasana pendapat yang sedang berlaku dengan jalan penyederhanaan sifat Tuhan. Kristus tidak menentang kebudayaan tetapi menggunakan hasil-hasilnya yang terbaik sebagai alat dalam karyanya untuk menganugrahkan kepada manusia apa yang tidak dapat dicapai oleh manusia. Manusia dapat berdamai dengan dirinya sendiri jika ia menyangkal alam dan kebudayaan dalam usahanya untuk taat kepada Kristus. Integritas dan perdamaian adalah pengharapan kekal dan tujuan dari orang Kristen, dan bahwa perwujudan sementara dari kesatuan ini dalam bentuk yang dirancang manusia.

4. Kristus Dan Kebudayaan Dalam Paradok.
Issue pokok dalam hidup bukanlah yang dihadapi kaum Kristen radikal yang menarik garis antara komunitas Kristen dan dunia kafir, juga bukan menurut issue yang menurut pandangan kaum Kristen budaya yang melihat konflik antara manusia dengan alam, tetapi terletak antar kebenaran Allah dan kebenaran diri. Yesus Kristus sepenuhnya adalah anugrah dari Allah dan Allah dari anugrah, sebab anugrah sepenuhnya ada di pihak Allah. Manusia di hadapan Allah mendapatkan hidupnya dari Allah, disokong dan diampuni oleh Allah, dikasihi dan dihidupi oleh Allah. Hukum kristus bukanlah suatu tambahan pada hukum kodrat manusia tetapi pernyataannya yang benar, suatu aturan bagi kebanyakan orang, dan bukan suatu aturan yang khusus bagi orang-orang super. Hukum kristus menuntut kasih terhadap Allah dan sesama yang lengkap, spontan dan sepenuhnya melepaskan diri sendiri tanpa melihat kearah keuntungan sementara. Dualisme cenderung memimpin orang-orang Kristen ke dalam antinomianisme dan kedalam konservatisme budaya.

5. Kristus Pengubah Kebudayaan.
Kristus adalah pengubah kebudayaan dalam arti bahwa Ia memberi arah baru, memberi tenaga baru, dan meregenerasikan hidup manusia, yang dinyatakan alam semua karya manusia. Akibat kedua dari dosa akar adalah keberdosaan social manusia, tidak ada sesuatu yang begitu sosial karena kodrat dan begitu tidak sosial karena kerusakan. Dengan merendahkan kesombongan dan melepaskan manusia dari dirinya sendiri disatu pihak dan dipihak lain menyatakan kasih Allah dan menghubungkan manusia kepada satu-satunya kebaikan, kristus memulihkan apa yang telah rusak. Penyakit yang mendalam dari manusia kontradiksi diri di mana ia terlibat sebagai perorangan dan sebagai anggota masyarakat-manusia, ialah penyangkalannya terhadap terhadap hukum keberadaannya. Pemerintahan berada di bawah pemerintahan kedaulatan Allah, dan bahwa orang Kristen harus melaksanakan karya budaya dalam ketaatan kepada Tuhan. Regenerasi masyarakat manusia melalui penggantian masyarakat kafir oleh prinsip-prinsip Trinitas adalah tema dari gerakan Kristen yang dimulai oleh Athanasius dan Ambrose.

B. Refleksi Pribadi

Kedatangan Yesus di dunia adalah dalam kerangka untuk memberi keselamatan dan norma-norma yang baru dalam tatanan kehidupan umat manusia. oleh karena itu Kristus adalah pribadi yang sentral dalam berita pemberitaan kritiani. Jelas bahwa kehadiran Yesus di dunia bukanlah dalam kerangka menghapuskan tatanan masyarakat yang sudah ada sebelumnya, melainkan Ia berusaha memberi pemaknaan baru yang dipusatkan pada konsep kasih. Tatanan masyarakat baru yang di tawarkan oleh Yesus dalam kerangka kerajaan Allah tentunya membawa konsekwensi logis berupa benturan dengan nilai-nilai kebudayaan yang telah ada dalam masyarakat. Oleh karena itu pendekatan yang saya lebih pilih dan juga sekaligus pilihan hidup saya adalah Kristus Pengubah Kebudayaan. Dialog antara Injil dan Kebudayaan adalah hal yang mau tidak mau harus dilakukan. Sebab Yesus sendiri adalah sebuah produk kebudayaan pada zamanNya, akan tetapi Yesus tidak menjadi larut dalam budayanya, namun Ia mampu memberi penilaian secara kritis terhadap kultur masyarakatnya dan memberi makna baru bahkan lebih dari itu, Yesus kemudian mampu menawarkan nilai-nilai baru. Kemampuan Yesus yang mampu memberi penilaian dan memaknai budayanya secara kreativ tentu saja bukanlah hasil spekulatif dari seorang reformator yang kebablasan. Tentulah sikap dan kemampuan Yesus ini didasari atas pengenalan yang mendalam atas budayanya, dan hal itu berarti Ia berakar kuat dalam budayanya. Sekalipun Yesus adalah pribadi yang berakar kuat dalam budayanya, namun ia tidak terjebak dalam romantsime budaya yang mengangung-agungkan budayanya sendiri. Kultur yang membungkus saya adalah kultur masyarakat Batak Karo. Kultur saya tentulah unik dan berbeda jauh dengan kultur masyarakat di mana Yesus pernah hidup dan berkarya. Akan tetapi sebagai seorang pengikut Yesus, maka menjadi tugas saya kemudian untuk mengenal budaya saya secara tepat dan kemudian mampu memberi penilaian kritis dan memberi makna baru, bahkan jika dirasa perlu saya harus mampu memberi nilai-nilai baru dalam kultur masyarakat saya berdasarkan ajaran Yesus.