RANGKUMAN PEMIKIRAN
TRANSFORMASI MISI KRISTEN
Buku David J. Bosch
A. Perubahan-perubahan Paradigma dalam Misiologi Iman Kristen adalah suatu iman yang histories, artinya Allah mengkomunikasikan pernyataanNya kepada orang banyak melalui manusia dan melalui berbagai peristiwa, dengan kata lain iman alkitabiah (baik PL dan PB), bersifat inkarnasional (realitas Allah memasuki urusan-urusan manusia). TRANSFORMASI MISI KRISTEN
Buku David J. Bosch
6 paradigma utama menurut Hans Kung
- Paradigma apokaliptik dari kekristenan perdana.
- Paradigma Helenis dari periode Bapa gereja.
- Paradigma Katolik Roma abad Pertengahan
- Paradigma Protestan (reformasi)
- Paradigma Pencerahan Modern
- Paradigma oikumenis yang sedang muncul
Paradigma dalam ilmu alamiah berbeda dengan ilmu teologi, dalam ilmu alamiah paradigma yang lama tentu digantikan oleh paradigma yang baru dank arena itu sangat tidak mungkin untuk kembali pada paradigma lama setelah mengenal paradigma yang baru, misalnya teori revulusi Newton dalam memandang dunia membuat kita tidak dapat kembali dalam cara pandang Copernicus apalagi Ptolomeus tentang dunia. Berbeda dengan teologi, Paradigma yang lama dapat terus hidup bahkan mengalami perkembangan sekalipun sudah ada paradigmam yang baru. Kadang-kadang paradigma lama mengalami kebangkitan/kejayaan kembali, misalnya penemuan kembali teologi Paulus oleh Augustinus pada abad 4M, Marthin Luther abad 16M, dan Karl Barth abad 20M.
Bagi orang Kristen, pergeseran paradigma apapun hanya dapat dilaksanakan berdasarkan Injil dan oleh karenan Injil, namun tidak pernah melawan Injil.
Gereja berfungsi sebagai paguyuban hermeneutis internasional, didalamnya orang-orang Kristen dari berbagai latar belakang yang berbeda-beda saling menantang bias budaya, social, dan ideologis dalam memahami teks-teks kitab suci. Sehingga kita memandang sesama orang Kristen sebagai mitra dan bukannya saingan apalagi musuh.
Gereja secara umum dan misi Kristen pada khususnya pada masa kini diperhadapkan pada masalah-masalah yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya, namun menuntut jawaban-jawaban yang relevan bagi zamannya dan pada saat yang sama selaras dengan hakikat iman Kristen. Factor-faktor yang menantang untuk dijawab : Barat yang merupakan symbol kekuasaan krkristenan telah kehilangan posisinya (power) di dunia. Orang-orang dari segenap belahan dunia sedang memperjuangkan pembebasan dari cengkraman kekuasaan barat. Struktur-struktur penindasan dan eksploitasi seperti rasialisme, seksisme, dll ditantang dengan lebih serius dibandingkan dengan masa sebelumnya.Teologi yang ekologis komprehensif. Kesadaran akan semakin berkurangnya sumber-sumber energi alam yang dimana manusia bergantung. Ancaman bencana kekuatan nuklir yang dapat memusnahkan peradaban umat manusia, perlu adanya usaha perdamaian dengan berdasar pada keadilan.Teologi Barat kini bukanlagi mahkota teologi Kristen, penerimaan akan nilai-nilai Injil yang ada dalam budaya menjadikan teologi-teologi local berkembang dengan pesat.Selama ini pemahaman akan absolutisme kebenaran agama Kristen dibanding agama lainnya tidak dapat ditawar. Akan tetapi tuntutan akan kebebasan dalam beragama menuntut kita mengevaluasi ulang sikap kita terhadap pemeluk agama lainnya.
Dunia masa kini menantang kita untuk mempraktekkan suatu hermeneutika transformative, suatu tanggapan theologies yang membaharui kita terlebih dahulu sebelum kita terjun ke dalam misi kepada dunia.
B. Paradigma Misi gereja Timur abda ke2 sampai abad ke 6 ·
Iman Kristen yang hidup dan berkembang pada tradisi keyahudian mulai mengalami perubahan ketika memasuki dunia kebudayaan Yunani-Romawi. · Para teolog Kristen cenderung mencemoohkan agama-agama kafir, mereka bersikap lebih baik pada filsuf kafir. · Pengaruh filsafat Plato sangat terasa dalam perubahan paradigma misi. Allah perjanjian lama dan kekristenan yang primitive kini diidentifikasikan dengan gagasan-gagasan yang umum tentang Allah dalam metafisika Yunani. · Penekanan budaya Yunani yang menitikberatkan pada pengetahuani dan bukannya pada pengalaman menyebabkan perubahan yang sangat memegang peranan. Allah bukanlahgi dilihat dalam hubunganNya antara manusia dan Allah, melainkan Allah menjadi semakin penting untuk direfleksikan dalam diriNya sendiri. Dengan kata lain Pengetahuan menggantikan peristiwa. Keselamatan bukan masalah pengalaman atau peristiwa melainkan masalah pemahaman yang benar. Oleh karena itu implementasinya adalah Roh Kudus bukan lagi penuntun/penghibur/penolong, melainkan menjadi roh hikmat (bukan kegiatanNya yang diperhatikan melainkan keberadaan awalNya yang menjadi perhatian), · Penyataan Allah tidak lagi dipahami sebagai komunikasi peristiwa-peristiwa, melainkan komunikasi kebenaran-kebenaran tentang keberadaan Allah dalam tiga hakikat dan pribadi tunggal Kristus dalam dua tabiat. · Pesan menjadi doktrin, doktrin menjadi dogma, dan dogma ini diuraikan dalam ajaran yang dengan lihai dirangkai menjadi satu. · Perbedaan yang mencolok antara tradisi Yunani dan tradisi Ibrani (semitik) adalah terletak pada penekanan Visual dan Audio. Iman timbul dari pendengaran, berasal dari kata Dabar (kata Ibrani untuk firman), menunjuk pada kata-kata yang diucapkan. Sedangkan Logos (kata Yunani untuk Firman), mengacu pada pengetahuan yang timbul melalui penglihatan. · Perbaikan situasi mengakibatkan perubahan wawasan akan pengahrapan Apokaliptik tidak lagi diperhatikan. · Pesan Kristen berada dalam masa perubuhan dari pemberitaan tentang pemerintahan Allah yang imanen menjadi pemberitaan tentang agama yang satu-satuya yang sejati dan universal untuk umat manusia. · Iman pada janji-janji Allah yang masih harus digenapi digantikan oleh iman pada kerajaan Kristus yang kekal yang sudah digenapi dalam kebangkitan Kristus. kebangkitanNya bukan lagi buah sulung (Paulus), dari kebangkitan orang percaya melainkan menjadi peristiwa yang lengkap sebagai penggenapan puncak dari semua janji Allah. · Kristus tidak lagi dipandang dalam bingkai Historisasi PL dan Eskatologis masa depan. Melainkan peristiwa kematian dan kebangkitan menjadi puncak (awal dan akhir). · Kristologi Yahudi yang menekankan pentingnya Kristus yang histories tersingkirkan menjadi kristus yang dimuliakan (Logos yang kekal). · Pemahaman bukan lagi pada eskatologi dan protologi Kristus (apa yang dikerjakan dan tujuan kedatangan Kristus), kedalam dunia melainkan pada praeksistensi kekal Kristus (dari mana Kristus datang). · Kekristenan Yahudi menekankan penyelamatan manusia dari bencana yang terjadi dalam dunia dan pembebasan para tawanan (keselamatan kepada dunia ini), sedangkan kekristenan Helenis menekankan pada penyelamatan dari dunia ini. · Gereja zaman ini mengalami ancaman yang cukup serius dari kaum Gnosis. · Sementara gereja semakin menamkan kekuasaannya di dunia barat, kekristenan dituntut untuk membangun kerjasama yang erat dengan kekaisaran. Kerena itu model kekritenan yang lainnya kemudian dikucilkan diusir. Akan tetapi pengusiran ini kemudia melahirkan model kekristenan Timur yang lain konteks (Asia). Sehingga metode yang khas dan berbeda dengan kekristenan di Barat.
C. Paradigma Misi Katolik Roma Abad Pertengahan ·
Yang dimaksud dengan abad pertengahan disini adalah masa antara 500 sampai 1500 tahun sesudah Masehi. Zaman ini boleh dikatakan dimulai pada saat Gregorius Agung menjadi Paus dan mencapai akhirnya pada saat Konstantinopel direbut oleh Islam. Sekalipun demikian kita harus melihat sosok Agustinus dari Hippo yang dapat dikatakan sebagai pelopor abad pertengahan. Reaksi dan tanggapan beliau terhadap berbagai gejolak yang terjadi dalam dunia keKreistenan abad pertengahan itu yang kemudian sangat mempengaruhi teologi abad pertengahan tersebut. · Bantahan Agustinus terhadap Pelagianisme; Pelagius memiliki pandangan yang sangat optimis akan potensi yang ada pada diri manusia. Bagi Pelagius manusia mempunyai kemampuan untuk mencapai segala hal yang baik melalui tindakan, perkataan, dan pengilhaman. Dengan kata lain Pelagius menganggap kematian Yesus di kayu salib bukanlah dalam rangka penebusan dosa-dosa manusia dan karena itu Yesus bukanlah Juruslamat melainkan sebatas guru dan model, dimana kita terpanggil untuk meneladaniNya. Jelas bagi Agustinus pemahaman Pelagius ini adalah pemahaman yang salah. Ia adalah seorang yang sangat memegang ajaran Paulus tentang pembenaran oleh iman. Jelas bahwa Agustinus melihat manusia sedemikian berdosanya sehingga sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa selain menerima anugrah Allah. Oleh karena itu Kematian Yesus Kristus di salib dan kebangkitanNya adalah pusat teologi Kristen. · Respon Agustinus terhadap kaum Donatis yang ada di Afrika Utara. Mereka menekankan bahwa ketujuh dosa maut (penyembahan berhala, hujat, membunuh, zinah, hubungan di luar nikah, bersaksi palsu, dan menipu), tidak dapat diampuni. Sehubungan dengan hal tersebut, mereka memprotes kehadiran Filipus dalam proses penahbisan Caecilian sebagai uskup Karthago. Mereka yakin bahwa Filipus adalah seorang pengkhianat terhadap orang-orang Kristen ketika terjadi penganiayaan dimasa Diocletianus. Selain itu ajaran utama mereka adalah pemisahan yang mutlak antara gereja dan Negara. Agustinus kemudian menentang kaum Donatis ini, dalam hal ini Agustinus tidak hendak menyatakan bahwa gereja dan para pemimpinnya bebas dari dosa, melainkan harus disadari bahwa di dalam gereja kita juga akan menemukan orang-orang yang masih berlumuran dosa. Oleh karena itu semua orang dalam gereja (termasuk orang-orangbaik), adalah orang berdosa, menurutnya kauym Donatis yang merasa diri benar dan kudus lebih berdosa daripada orang-orang berdosa lainnya. Ia menekankan bahwa kehadiran gereja bukanlah menjadi tempat perlindungan dari dunia yang telah rusak melainkan hadir demi perbaikan dunia. Akan tetapi yang kemudian menjadi fatal adalah pandngan Agustinus tadi kemudian menimbulkan paradigma kekudusan melekat pada diri Gereja. Sehingga barangsiapa yang berada di luar gereja (Katolik) menjadi tidak selamat. Dua abad setelah Agustinus, Cyprianus yang muncul di daerah bekas perbantahan antara Agustinus dan kaum Donatis mengatakan istilah yang kemudian menjadi dasar gereja Katolik abad pertengahan “extra ecclesian nulla salus” (tidak ada keselamatan di luar gereja Katolik). Sekalipun slogan ini lahir dalam kondisi yang sangat khas (hasil pembantahan Agustinus terhadap kaum Donatis), akan tetapi tidak lama kemudian kontekstualisasi ucapan Cyprianus menjadi tidak penting, sehingga ini dijadikan dasar dalam bertindak melakukan ekspansi-ekspansi keluar bahkan dengan cara-cara yang memalukan. · Penaklukkan Roma yang saat itu telah menjadi Kristen oleh kaum Gotik (non Kristen). Menjadi kasus yang juga dijawab oleh Agustinus melalui salah satu karya fenomenalnya “De Civitate Dei”. Teologi saat itu yang sangat mengagung-agungkan kekristenan sebagai sumber berkat, terbukti dari kejayaan Roma menjadi luntur akibat kekalahan mereka dari kaum Gotik yang bukan orang Kristen. Sehingga banyak orang yang melihat ini sebagai bukti kegagalan agama Kristen. Terutama para penganut agama tradisi Romawi yang menuduh penerimaan agama Kristen dan pelarangan agama Romawi kuno menyebabkan kemarahan para dewa dan membiarkan kekalahan Roma. · Agustinus dalam jilid 15, menekankan bahwa ada dua masyarakat di dunia ini. Masyarakat yang pertama adalah kelompok yang hidup berdasarkan stndar-standar manusia, sedang kelompok yang kedua adalah yang hidup menurut kehendak Allah. Agustinus yakin bahwa kelompok manusia yang kedua ini telah ditetapkan oleh Allah sebelumnya untuk memerintah bersama Allah (predestined). Penting untuk melihat bahwa Agustinus tidak menyamakan civitas Dei dengan gereja secara institusi apalagi Negara, melainkan ia menunjuk kepada persekutuan orang-orang kudus (communion sanctorum), yang sedang berziarah dalam sebuah perjalanan menuju ke rumah sorga. Sekalipun demikian pandangan Agustinus ini dilencengkan menjadi penyamaan Kota Allah dengan kehadiran gereja Katolik sebagai Institusi. Yang menarik adalah pandangan Agustinus tentang Kota Dunia (kelompok manusia yang pertama), tidak sepenuhnya negative berbea dengan kaum Donatis. Ia tidak memisahkan secara mutlak antara yang kudus dan yang profan. Tetapi ia juga tidak menjadi terburu-buru menyatakan bahwa Kekaisaran Roma sebagai alat keselamatan Allah. Agustinus mengakui bahwa masyarakat Kota Dunia (civitas terrena), sedang berjuang menuju kepada masyarakat ideal dimana keadilan dan perdamaian berkuasa, akan tetapi kondisi ideal ini tidak akan pernah tercapai di dalam dunia, melainkan hanya di dalam kerajaan Kristus yang akan datang. · Tiga peristiwa di atas kemudian menjadi dasar bagi teologi gereja Katolik abad pertengahan. Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya terjadi pergeseran-pergeseran pemahaman ke arah yang lebih radikal dan cendrung tidak memperhatikan konteks ide tersebut lahir. Sebagai contoh ide pemaksaan terhadap kaum Donatis agar mereka kembali masuk Kristen kemudian menjadi dasar bagi Gregorius Agung melakukan tindakan kekerasan bagi para budak yang belum dibabtis, padahal pemaksaan yang dilakukan oleh Agustinus hanya sebatas penambahan pajak, pengucilan, dan bukannya hukuman fisik. · Yang sungguh disyukuri kemudian adalah perkembangan Monastisime yang sebenarnya diyakini lahir di dunia gereja Timur. Sekalipun demikian ada perbedaan yang mencolok antara monastisisme gereja Timur dan gereja Barat. Di Timur gerekan ini lebih kepada menjauhkan diri dari kehidupan duniawi, melakukan penyendirian-penyendirian, sedangkan di Barat Biara bahkan menjadi pusat Misi. Di sini para Misionaris dibekali dan diperlengkapi. · Puncak dari teologi abad pertengahan diyakini muncul dalam diri Thomas Aquinas. Ia membagi manusia dan segala sesuatunya di alam ini ke dalam dua bagian besar. Bagian yang menunjuka kepada yang bersifat kodrati dan yang kedua bersifat adikodrati. Yang bersifat adiodrati lebih tinggi dari yang bersifat kodrati, ia mengatakan bahwa iman lebih tinggi dari nalar, teologi lebih tinggi dari filsafat.
D. Paradigma Misi Reformasi Protestan
Kekecewaan terhadap ajaran-ajaran yang menyimpang dari Alkitab membuat Marthin Luther mengadakan reformasi dalam tubuh gereja KAtolik Roma. · Roma 1:16 memberi kesadaran kepada Marthin Luther dan melahirkan 3 semboyan, sola gratia, sola scripture, sola fide. · Akhirnya gereja Katolik Roma mengusir Marthin Luther dari dalam gereja, sehingga pengikutnya kemudia disebut sebagai kaum reformator. Gereja protestan bertumbuh dengan pesat, bahkan masih terpecah ke dalam beberapa aliran lainnya.
Menuju satu Misi yang Relevan · Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah menyadarkan manusia bahwa konsep-konsep rasionalisme bukan lagi segala-galanya dan tidak harus melakukan ekspansi dalam menyebarluaskannya. · Skema subjek-objek telah dibaharui, bumi bukanlah sekedar objek tetapi bagian dari manusia yang tidak dapat dipisahkan, sehingga kesadaran ekologis mulai berkembang. · Kesadaran akanpentingnya membangun dialog dengan penganut agama lain menjadi hal yang tidak dapat dikesampingkan. · Gereja bukanlagi bersifat sentifugal tetapi sentrypetal. Misi bukanlagi dari gereja dan untuk gereja, melainkan dari gereja dan untuk umat manusia. · Misi yang dijalankan oleh gereja bukanlah misi gereja, melainkan misi Allah yang dipercayakan kepada gereja, sehingga gereja adalah Alat dan bukan penentu dalam melaksanakan Misi. · Proses pelaksanaan Misi tidak boleh serampangan, harus memperhatikan konteks social masyarakat sekitarnya, sehingga tidak lagi tejadi vandalisme teologis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar